![]() |
| Gambar diambil dari Pinterest. |
Mungkin akan banyak tulisan mengenai LDM di blog ini selagi saya masih LDM dengan suami. Cuman ingin curhat saja, setiap weekend kadang ada satu waktu untuk merenung, lelah rasanya harus LDM terus. Mudah jika mengambil keputusan untuk "pindah" itu dilakukan dengan nekat dan keyakinan. Namun sampai sekarang masih ada rasa takut dan perasaan yang belum bulat untuk pindah.
Saya sendiri sering memikirkan untuk pindah mendekat dengan suami dengan mengajukan mutasi pekerjaan ke tempat suami atau resign dari kantor, tapi pemikiran tersebut terhalang oleh keinginan orangtua yang menginginkan saya untuk bisa mandiri bekerja dan kalau bisa jangan jauh dari orangtua. Memang egois rasanya orangtua saya jika mengingkan hal itu dari saya yang seharusnya ikut dengan suami karena memang kewajiban saya saat ini adalah mengikuti suami. Tapi saya mencoba memaklumi karena mungkin saya satu-satunya anak yang dimiliki, membuat mereka merasa sulit untuk jauh dari saya, apalagi saya sudah mulai hidup terpisah sejak usia 18 tahun sampai sekarang usia saya 26 tahun.
Sebenarnya berat bagi saya harus LDM dengan suami, tapi alhamdulillah saat ini suami masih sabar dan bersedia menerima kondisi kegalauan saya. Entah sampai kapan suami akan bersabar. Saya bersyukur punya suami yang mau mengerti saya disaat saya merasa bahwa saya sendiri sebenarnya sudah egois memaksakan keadaan untuk bertahan LDM.
Mudah saja bagi orang lain berpendapat, kenapa tidak suaminya saja yang pindah ke tempat kamu bekerja? Atau kalian sama-sama mengajukan pindah ke kota yang kalian mau. Sudah! Kami sudah memikirkan opsi tersebut, tapi apa bisa semudah kami menginginkan hal tersebut lalu terjadi? Semua butuh proses dan usaha. Pemikirannya yang panjang dan jernih. Tidak bisa dilakukan semata-mata memenuhi keinginan orang lain atau omongan orang lain. Kadang orang lupa bahwa dirinya bisa dengan mudah berkomentar atau berpendapat tentang rumah tangga anaknya atau orang lain tanpa memahami perasaan orang lain tersebut. Padahal yang merasakan bahagia kan si pasangan itu berdua.
Kembali ke permasalahan saya. Saya sendiri masih sangat bingung dan sedih, ingin menyudahi LDM ini. Saya ingin bahagia dengan suami, belajar untuk berumah tangga. Entah dimanapun kami berada. Semoga saya bisa dapat keberanian untuk "pindah".
Semoga orangtua di luar sana bisa memahami bahwa kondisi anak-anak mereka yang menikah itu sudah berbeda. Mereka tetaplah anak kalian tapi biarkan mereka terbang bebas mengarungi dunia ini. Membina rumah tangga mereka berdua. Biarkan mereka mandiri menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Khawatir dan memberikan nasihat itu perlu tapi jangan sampai menghalangi kebahagiaan mereka yang seharusnya bisa mandiri menyelesaikan tantangan dalam berkeluarga. Kami sebagai anak tidak akan pernah berhenti menyayangi orangtua. Kami hanya belajar untuk menjadi "orangtua" selanjutnya untuk anak-anak kami juga. Janganlah rasa sayang kalian menghalangi anak-anak kalian ini untuk belajar menjadi keluarga yang kuat dan bahagia. Kami tahu dan sadar bahwa kasih sayang orangtua tidak ternilai dan akan terus ada sampai akhir masa, bahkan pasangan kami pun belum tentu menyayangi kami seperti orangtua kami menyayangi. Tapi ingatlah bahwa manusia hidup berkembang dan belajar. Kami ingin berkembang menjadi orang yang lebih dewasa dan belajar menjalani hidup kami, hidup yang kami mulai sejak hari pernikahan. Sejak rumah tangga kami dimulai hingga seterusnya.

No comments:
Post a Comment