Pages

Saturday, October 19, 2019

Long Distance Marriage: Kapan "Pindah"?

Gambar diambil dari Pinterest.

Mungkin akan banyak tulisan mengenai LDM di blog ini selagi saya masih LDM dengan suami. Cuman ingin curhat saja, setiap weekend kadang ada satu waktu untuk merenung, lelah rasanya harus LDM terus. Mudah jika mengambil keputusan untuk "pindah" itu dilakukan dengan nekat dan keyakinan. Namun sampai sekarang masih ada rasa takut dan perasaan yang belum bulat untuk pindah.

Saya sendiri sering memikirkan untuk pindah mendekat dengan suami dengan mengajukan mutasi pekerjaan ke tempat suami atau resign dari kantor, tapi pemikiran tersebut terhalang oleh keinginan orangtua yang menginginkan saya untuk bisa mandiri bekerja dan kalau bisa jangan jauh dari orangtua. Memang egois rasanya orangtua saya jika mengingkan hal itu dari saya yang seharusnya ikut dengan suami karena memang kewajiban saya saat ini adalah mengikuti suami. Tapi saya mencoba memaklumi karena mungkin saya satu-satunya anak yang dimiliki, membuat mereka merasa sulit untuk jauh dari saya, apalagi saya sudah mulai hidup terpisah sejak usia 18 tahun sampai sekarang usia saya 26 tahun.

Sebenarnya berat bagi saya harus LDM dengan suami, tapi alhamdulillah saat ini suami masih sabar dan bersedia menerima kondisi kegalauan saya. Entah sampai kapan suami akan bersabar. Saya bersyukur punya suami yang mau mengerti saya disaat saya merasa bahwa saya sendiri sebenarnya sudah egois memaksakan keadaan untuk bertahan LDM.

Mudah saja bagi orang lain berpendapat, kenapa tidak suaminya saja yang pindah ke tempat kamu bekerja? Atau kalian sama-sama mengajukan pindah ke kota yang kalian mau. Sudah! Kami sudah memikirkan opsi tersebut, tapi apa bisa semudah kami menginginkan hal tersebut lalu terjadi? Semua butuh proses dan usaha. Pemikirannya yang panjang dan jernih. Tidak bisa dilakukan semata-mata memenuhi keinginan orang lain atau omongan orang lain. Kadang orang lupa bahwa dirinya bisa dengan mudah berkomentar atau berpendapat tentang rumah tangga anaknya atau orang lain tanpa memahami perasaan orang lain tersebut. Padahal yang merasakan bahagia kan si pasangan itu berdua.

Kembali ke permasalahan saya. Saya sendiri masih sangat bingung dan sedih, ingin menyudahi LDM ini. Saya ingin bahagia dengan suami, belajar untuk berumah tangga. Entah dimanapun kami berada. Semoga saya bisa dapat keberanian untuk "pindah".

Semoga orangtua di luar sana bisa memahami bahwa kondisi anak-anak mereka yang menikah itu sudah berbeda. Mereka tetaplah anak kalian tapi biarkan mereka terbang bebas mengarungi dunia ini. Membina rumah tangga mereka berdua. Biarkan mereka mandiri menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Khawatir dan memberikan nasihat itu perlu tapi jangan sampai menghalangi kebahagiaan mereka yang seharusnya bisa mandiri menyelesaikan tantangan dalam berkeluarga. Kami sebagai anak tidak akan pernah berhenti menyayangi orangtua. Kami hanya belajar untuk menjadi "orangtua" selanjutnya untuk anak-anak kami juga. Janganlah rasa sayang kalian menghalangi anak-anak kalian ini untuk belajar menjadi keluarga yang kuat dan bahagia. Kami tahu dan sadar bahwa kasih sayang orangtua tidak ternilai dan akan terus ada sampai akhir masa, bahkan pasangan kami pun belum tentu menyayangi kami seperti orangtua kami menyayangi. Tapi ingatlah bahwa manusia hidup berkembang dan belajar. Kami ingin berkembang menjadi orang yang lebih dewasa dan belajar menjalani hidup kami, hidup yang kami mulai sejak hari pernikahan. Sejak rumah tangga kami dimulai hingga seterusnya.

Wednesday, October 16, 2019

1st Pregnancy: Kondisi Kesehatan Awal Kehamilan

Saat ini saya masih berada di trimester awal kehamilan. Banyak perubahan yang saya rasakan terutama untuk kondisi kesehatan. Memang kondisi setiap ibu hamil berbeda, tidak bisa disamakan. Ada yang kondisi kesehatannya baik-baik saja seperti sebelum hamil, tidak ada mual dan muntah, ada juga yang mual muntah di jam-jam tertentu misalnya pagi atau malam hari, ada juga yang mual muntah sepanjang hari. Saya termasuk yang mengalami mual muntah sepanjang hari, tidak menentu. Setiap pagi dan pulang kantor saya pasti mual dan muntah, kadang saat di kantor mual juga melanda, apalagi ketika perut terasa kosong.

Dari beberapa artikel dan cerita ibu hamil di forum kehamilan yang saya baca, kondisi kesehatan ibu hamil bervariasi. Untuk saya, perbedaan saat hamil dan sebelum hamil sangat terasa. Dulu, saya memang tipe orang yang tidak bisa kecapean, tapi hal tersebut masih bisa ditolerir oleh tubuh saya. Meskipun saya kecapean, saya masih bisa memaksakan untuk beraktivitas. Beda halnya dengan saat hamil seperti sekarang, kecapean sedikit, saya sudah tidak sanggup beraktivitas sepenuhnya.

Saya menjadi mudah lelah ketika melakukan pekerjaan rumah, menatap layar komputer di kantor terlalu lama, atau sekedar mengerjakan pekerjaan kantor biasa. Badan terasa sangat lemas seperti orang masuk angin, namun tidak kunjung sembuh setelah minum obat atau vitamin dari dokter.

Sekarang perjalanan dari kantor ke kost semakin terasa melelahkan dan jauh sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari kost yang dekat dengan kantor, meskipun saat ini belum dapat. Pergi sebentar ke mall saja saya sudah tidak sanggup berjalan lama-lama karena rasa lelah dan lemas yang datang, sehingga ingin cepat-cepat pulang beristirahat.

Di malam hari, saya sering terbangun beberapa jam sekali karena kehausan atau karena ulu hati saya sakit. Setiap hari harus seperti itu, tidur selalu tidak nyenyak karena perasaan tidak nyaman, miring ke kanan, ke kiri ataupun terlentang, serba salah.

Satu-satunya alat yang membantu saya kuat di kehamilan trimester pertama ini adalah minyak kayu putih. Saya tidak bisa lepas dari minyak kayu putih kemanapun saya pergi. Selain itu, beberapa peralatan yang selalu ada di dalam tas adalah kantong kresek, air putih hangat, cemilan (biskuit atau buah) dan obat atau vitamin dari dokter.

Alhamdulillah mungkin saya tergolong orang yang kehamilan awalnya sangat melelahkan. Meskipun begitu saya harap kondisi kesehatan yang lemah seperti ini bisa segera berakhir ketika memasuki trimester dua nanti. Aamiin.

Sunday, October 13, 2019

Tinggal di Rumah Impian Keluarga Kecilku

Ketika sudah menikah, memiliki dan tinggal dalam sebuah rumah bersama dengan suami dan anak-anak kami kelak merupakan suatu idaman bagi saya sebagai seorang istri. Namun sayang sampai saat ini keinginan tersebut belum bisa kami wujudkan karena LDM. Sebenarnya di kampung saya, sudah ada rumah yang bisa kami tempati bersama andai saya dan suami tidak LDM. Rumah itu kecil memang tapi cukuplah untuk ditempati berdua atau bertiga dengan anak kami kami nanti.
Gambar diambil dari Pimterest
Jujur kadang melihat igstory pasangan muda lain yang bisa tinggal serumah bersama, membuat saya sedih, ingin merasakan hal tersebut dengan suami. Kadang suka bertanya dalam hati, kapan LDM ini berakhir? Kapan bisa tinggal bareng? Kapan berhenti ngekost? Tapi seketika kembali saya teringat bahwa memang kondisi setiap pasangan beda-beda. Senang sedihnya tiap keluarga pun beda-beda. Mungkin saat ini memang kami harus kuat dan tetap bersyukur dengan kondisi yang ada, harus tinggal berjauhan. Yang terpenting semoga kami dijauhkan dari rasa iri ketika melihat pasangan lain yang bisa tinggal serumah.
Gambar diambil dari Pinterest
Kadang kalau lagi jalan ke mall dan ke toko peralatan rumah tangga, pengen banget rasanya beli peralatan rumah tangga sama tanaman-tanamannya. Tapi sekarang rasanya belum bisa, karena sayang juga rumahnya belum bisa ditempati bersama. Positifnya bisa memanfaatkan uangnya untuk keperluan yang lain.
Gambar diambil dari Pinterest
Buat saya, membayangkan bisa tinggal di rumah kecil kami bersama merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Mungkin dari sini kami bisa mulai hal-hal kecil bersama. Bangun subuh bersama, kemudian menyiapkan sarapan sebelum kami sama-sama pergi ke kantor. Suami mengantarkan saya ke kantor dan menjemput saya di waktu pulang kantor. Atau mungkin siangnya kami bisa makan siang bersama. Kemudian setiap malam bisa kami tutup dengan pillow talk yang saling menghangatkan komunikasi. Belum lagi bisa belanja bareng, bisa main game bareng ketika weekend. Saya bisa mengeksplorasi masakan di dapur kecil kami. Membersihkan rumah di weekend kami atau sekedar duduk-duduk manis di sore weekend. Sungguh manis cita-cita ini. Cita-cita bisa tinggal serumah dengan segala macam aktivitas yang bisa kami lakukan sebagai keluarga muda. Namun LDM, mengharuskan kami tinggal berjauhan. Tinggal di rumah impian yang saya idamkan, mungkin harus tertunda sampai dengan waktu yang belum kami ketahui. Semoga kebahagiaan bisa tinggal serumah ini bisa kami segerakan aamiin.

Hadiah Terindah Ulang Tahun Pernikahan

Di bulan Agustus lalu, saya dan suami alhamdulillah telah melalui 1 tahun pernikahan. Masih terbilang baru dan kata orang masih anget-angetnya. Padahal menurut saya meskipun baru 1 tahun, selama 365 hari tersebut banyak pelajaran baru yang saya dapatkan, tidak semua momen manis, ada juga yang pahit, tapi alhamdulillah semua bisa kami lewati hingga saat ini. Namun kali ini saya tidak ingin sharing mengenai cerita atau kejadian-kejadian yang kami alami selama 1 tahun pernikahan, kali ini saya ingin menuliskan kabar bahagia bagi saya dan suami.

Alhamdulillah tepat di tanggal 1 tahun pernikahan lalu saya dan suami baru mengetahui bahwa kami telah diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memiliki calon buah hati. Kabar bahagia ini merupakan kabar yang sudah kami tunggu-tunggu sejak kami menikah, meskipun kami sadar kondisi kami saat ini belum sepenuhnya mendukung. Namun alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas anugerah ini, inilah kado terindah di ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Allah telah menjawab doa-doa kami dan memberikan kami hadiah ini insyaAllah di waktu yang tepat bagi kami berdua.
Gambar diambil dari Pinterest
Sedikit mengenang kejadian waktu pertama kali mengetahui bahwa saya positif hamil pada waktu itu. Saya dan suami menjalani LDM di kota yang berbeda, beberapa hari sebelum hari ulang tahun pernikahan, saya dan suami merayakan Idul Adha di tempat yang terpisah, saya di kampung dan suami di kota perantauannya. Setelah merayakan Idul Adha, saya dihadapkan dengan keadaan harus dinas ke Semarang selama 4 hari, kemudian balik lg ke kota tempat saya bekerja baru kemudian ke kota tempat suami bekerja. Melelahkan bukan? Perjalanan seperti itu biasanya sudah sering saya lakukan, sudah tahu lelah tapi tetap saya jalani, selagi fisik ini masih kuat dan tidak lemas. Namun berbeda dengan saat itu, ketika di Semarang saya sudah merasakan gejala kelelahan dan maag, namun saya coba sugesti bahwa saya harus istirahat dan mungkin hanya penyakit maag saya saja yang kambuh. Saya beraktivitas seperti biasa, meskipun lemas itu sering saya rasakan ketika malam hari. Sampai waktu dinas selesai dan saya kembali ke kota tempat saya bekerja, saya diharuskan untuk mengikuti upacara di pagi hari dan waktu itu saya tidak sempat sarapan bahkan minum pun saya tidak sempat karena terburu-buru. Akhirnya ketika upacara saya merasa sangat lemas sampai seorang teman mengkhawatirkan keadaan saya yang tumben selemas itu. Disana saya masih berpikir bahwa maag adalah penyebab utama keadaan saya lemas saat itu. Oleh karenanya saya berinisiatif untuk segera makan agar sakit di ulu hati dan pusing itu berkurang. Namun sebelum makan, saya harus ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan urgent sebelum saya mengambil cuti dalam rangka ulang tahun pernikahan. Waktu itu saya ke kantor dengan seorang teman, di perjalanan saya sempat muntah karena sudah tidak tahan. Kemudian di kantor keadaan sudah membaik, saya selesaikan kerjaan urgent dan bergegas ke stasiun untuk naik damri ke bandara. Namun di perjalanan, kondisi lemah kembali saya rasakan. Saya akhirnya mencoba memesan makan dulu sesampainya di stasiun. Makanan dan minuman datang, saya coba minum sedikit, perut saya semakin tidak enak dan pusing, saya memutuskan untuk ke toilet dan menitipkan makanan tadi. Setelah dari toilet, saya coba makan lagi dan keadaan menjadi lebih baik. Lagi-lagi saya pikir itu hanya maag. Sempat beberapa kali vcall dengan suami selama di perjalanan, dan bilang bahwa saya tidak kuat dengan maag saya. Namun suami malah bercanda dan mengatakan jangan-jangan saya hamil dan ingin membelikan testpack ketika saya sudah sampai nanti (karena saat itu saya cerita sudah telat haid beberapa hari). Kondisi membaik saya ternyata tidak berlangsung lama, di pesawat dan sesampainya di kota suami, saya kembali mual dan pusing, saya pikir saya benar-benar kelelahan. Suami pun segera mengajak saya makan di tempat kesukaan saya. Malamnya pun begitu, saya malah makan sushi di tempat kesukaan kami, kemudian suami menepati janji buat membelikan saya testpack untuk di test pada malam itu. Namun karena tanggung, besok ulang tahun pernikahan, saya pikir kalo benar positif hamil, alhamdulillah bisa jadi kado pernikahan kami yang tak ternilai, akhirnya kami memutuskan untuk testpack besok harinya.

Keesokan harinya, tepat di hari ulang tahun pernikahan kami, saya akhirnya menggunakan testpack tersebut dan alhamdulillah dengan sedikit shock, ternyata benar saya positif hamil! Perasaan saat itu antara kaget, senang, bersyukur, sedih juga ada, rasa tidak percaya, kami berdua rasakan. Senang karena alhamdulillah kami diberikan kepercayaan, sedih karena ingat kondisi kami yang masih LDM. Tapi kami berdua mencoba menguatkan diri dan mengambil positifnya saja, karena memang memiliki anak merupakan dambaan kami berdua, kami tidak pernah program namun tidak pernah menunda juga. Kami hanya berdoa agar diberikan diwaktu yang tepat dan kami siap. Alhamdulillah inilah jawaban dari Allah. Mungkin inilah waktu yang tepat dan siap bagi kami berdua.

Dari hasil testpack pertama, kami kemudian kami mencoba di testpack kedua dan ketiga sampai hasilnya semua sama dan keesokan harinya kami mengunjungi dokter Obgyn untuk benar-benar memastikan. Dan alhamdulillah kami baru benar-benar percaya dan memberikan kabar bahagia ini kepada keluarga setelah dokter Obgyn bilang benar bahwa saya positif dengan usia janin sesuai dengan HPHT saya saat itu.

Alhamdulillah tiada henti-hentinya kami ucapkan atas kado tak ternilai dari Allah di ulang tahun pernikahan kami ini. Tepat di 1 tahun pertama, kami mendapat kabar bahagia akan kehadiran calon buah hati. Semoga proses kehamilan saya dilancarkan dan disehatkan sampai proses persalinan nanti tiba aamiin. Semoga saya dan suami bisa menjaga amanah ini dengan sebaik mungkin. Semangat!

1 Tahun Menjalani Long Distance Marriage

Agustus tahun ini, alhamdulillah tepat 1 tahun saya dan suami menjalani long distance marriage (LDM). Sejak awal pernikahan saya dan suami memang harus menjalani LDM karena pekerjaan. Saya bekerja di kota A dan suami bekerja di kota B, sama-sama tinggal sendiri jauh dari orang tua, antar pulau pula. Proses ini sudah kami sepakati saat mulai serius membicarakan tentang pernikahan, dengan harapan proses LDM yang dijalani tidak sampai berlama-lama. Salah satu di antara kami sebisa mungkin diharapkan bisa mengurus mutasi ke salah satu kota dan bisa tinggal bersama layaknya suami istri pada umumnya. Namun sekarang setahun sudah berlalu dan kami masih harus menjalani LDM.
Gambar diambil dari Pinterest
Buat saya, di bulan-bulan awal pernikahan, LDM rasanya biasa saja, komunikasi dan lainnya masih berjalan dengan baik, menjalani aktivitas sehari-hari pun biasa saja, tidak ada yang berubah. Namun di bulan-bulan berikutnya hingga 1 tahun lebih menjalani LDM, rasanya menjadi berbeda. Ada yang kurang dalam kehidupan kami. Komunikasi tetap baik, tapi ada hal-hal dimana keluarga baru lain bisa dapatkan ketika tinggal bersama dan kami belum bisa dapatkan. Kewajiban satu sama lain yang harusnya bisa dijalankan, belum bisa sepenuhnya kami lakukan kepada pasangan. Saya sendiri sebagai seorang istri, merasa banyak ketinggalan belajar dan praktek untuk menjadi istri yang baik buat suami saya karena keterbatasan jarak dan waktu. Banyak hal-hal kecil yang bisa dilakukan bersama namun harus kami lewatkan karena terhalang jarak dan waktu. Terkadang suka sedih membayangkan suami harus mandiri disana tanpa ada kehadiran saya mengurusnya sebagai istri. Padahal salah satu makna dari sebuah pernikahan itu sendiri adalah kebersamaan. Kami yang baru menikah ini, berharap bisa sama-sama belajar membangun rumah tangga sederhana, belajar menjadi suami-istri yang terbaik, belajar menyatukan dua kepala dalam satu ikatan.
Gambar diambil dari Pinterest
Menjalani LDM sampai saat ini tentu ada plus dan minusnya. Mungkin jika pesimis memaknainya, akan banyak minusnya. Saya mau sharing mulai dari minusnya dulu. Hal yang paling dasar yang bisa saya rasakan adalah tidak bisa tinggal satu rumah, tidak bisa menjalankan kewajiban full sebagai suami istri, segala aktivitas rumahan yang bisa dilakukan gotong-royong bersama harus dilakukan sendiri, misalnya belanja bulanan sendiri untuk keperluan sendiri yang harusnya untuk keperluan berdua, berangkat ke kantor sendiri, kalau sakit harus sendiri, komunikasi lewat telp dan vcall, keuangan pun menjadi double pengeluaran untuk suami-istri. Kami harus menyediakan dana tambahan untuk bertemu setiap 2 minggu sekali (yang kemudian lama-lama berubah jadi sebulan sekali), ongkos pesawat, ongkos main, biaya sewa 2 kost, biaya makan sendiri-sendiri dan biaya lainnya. Semua menjadi double. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kami kesulitan untuk menabung. Di tahun awal pernikahan, gaji yang kami terima lebih banyak kami habiskan agar kami bisa bertemu melepas rindu. Itu sedikit dari minusnya LDM yang saya rasakan selama setahun ini ya. Untuk plusnya sebisa mungkin kami menjadi lebih belajar menghargai waktu ketika bersama karena waktu bersama itu sangat terbatas bagi kami, saya dan suami jadi lebih memaksimalkan quality time kami berdua, menyelesaikan konflik lebih cepat jika ada selisih paham tanpa dipendam dan mengulur-ulut waktu. Belajar komunikasi yang baik dan efektif. Jadi punya me time ketika saya misalnya ingin sendiri pergi ke salon atau suami ingin main game kesukaannya. Kami dipaksa untuk lebih dewasa dalam menyikapi hal-hal dalam kehidupan. Saya rasa itu lah sedikit sharing plus minus LDM yang saya rasakan selama setahun lebih ini bersama suami.
Gambar diambil dari Pinterest
Setahun mungkin adalah waktu yang singkat dalam sebuah pernikahan, tapi bagi saya, setahun menjalani pernikahan LDM telah banyak memberikan warna dalam kehidupan. Ada rasa sedih, ada rasa senang, meskipun ke tahap bahagia memiliki keluarga kecil itu belum sepenuhnya saya rasakan :') Bayangan keluarga kecil bahagia yang saya cita-citakan tentulah jauh dari yang sekarang kami jalani. Tapi saya selalu berdoa dan berusaha agar cita-cita itu segera terealisasikan.

Untuk kalian disana yang sedang menjalani LDM, saya doakan semoga bisa terus semangat menjalaninya sampai kalian bisa berkumpul lagi dan berhenti menjalani LDM. Doakan saya juga bisa lepas dari LDM ini secepatnya di waktu yang tepat aamiin.

Blog Baru

Hallo semuanya, ini adalah blog baru saya, sebenarnya pengen ngelanjutin blogging di blog lama, tapi karena ingin tampilan blog baru tanpa merubah tampilan blog lama, sekarang saya mencoba untuk menulis di blog dengan alamat url yang baru ini dengan suasana baru. Kalau nanti akan berubah pikiran, seluruh postingan di blog ini akan saya pindahkan ke blog saya yang lama. Postingan di blog ini akan lebih mengarah ke daily life dan sharing informasi.
Gambar diambil dari Pinterest
Demikian post pertama ini saya buat. Semoga banyak pembaca yang menikmati postingan-postingan selanjutnya ya :) terima kasih.