Pages

Thursday, November 11, 2021

Fase Kehidupan Baru Dimulai : Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

Sebulan yang lalu, alhamdulillah anak kedua kami telah lahir kedunia ini dengan selamat dan lengkap. Kelahiran anak kedua kami sedikit berbeda ceritanya dengan kelahiran anak pertama yang pada waktu itu mundur satu minggu dari HPL HPHT, kali ini anak kedua kami terlahir maju 10 hari dari HPL HPHT dan HPL dokter. Kesamaannya dengan anak pertama yaitu terlahir masih di masa pandemi Covid-19 (bayi era pandemi).

Sedikit prolog, jadi sekitar pertengahan September 2021 lalu, suami memutuskan untuk kembali ke Banjarmasin setelah mendapat izin WFH dan menyusul saya yang sedang cuti melahirkan. Rencananya suami akan kembali ke Jakarta diakhir bulan September 2021 dan kembali lagi pada awal Oktober 2021 jelang HPL saya. Lalu karena kebetulan ada kegiatan kantor yang harus saya ikuti pada minggu awal cuti melahirkan, weekday akhirnya saya isi dengan kegiatan tersebut dan rencana yang sebelumnya sudah saya buat untuk persiapan kelahiran baru bisa saya lakukan di hari weekend. Lalu di weekend tersebut saya dan suami mengajak si kakak jalan dan membeli beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk si dede. Di hari sabtu saya, suami dan si kakak pergi jalan seperti biasa ke mall, ke tempat makan dan ke toko perlengkapan bayi hingga malam. Keesokan harinya yaitu hari minggu, saya, suami, si kaka dan mama pergi untuk makan siang bersama dan rencananya akan membeli beberapa perlengkapan bayi lagi serta kado untuk teman kami yang baru saja mengadakan acara aqiqah anaknya. Keadaan sewaktu makan siang masih seperti biasa dan berlanjut saat berada di toko perlengkapan bayi ternyata perut saya mengalami kram sampai rasanya tidak kuat berjalan. Rencana untuk berkeliling melihat perlengkapan bayi pun dibatalkan dan kami hanya membeli kado untuk teman saja lalu mengantarkannya ke rumah teman tersebut. Setelah mengantar kado tersebut, kami langsung pulang dan kram yang saya rasakan saat di toko perlengkapan bayi tersebut berangsur-angsur hilang. Lalu muncul kram yang tidak menentu sepanjang malamnya namun saya masih berpikir itu hanya kontraksi palsu. Kebetulan di kehamilan pertama karena tidak pernah merasakan kontraksi palsu, saya menjadi santai saja saat di kehamilan kedua ini mengalami kram dan masih berpikir bahwa hari lahir anak kedua kami masih sesuai HPL.

Keesokan harinya, yaitu hari senin pagi saya kembali jalan untuk menemani suami ke Rumah Sakit memeriksakan kesehatannya. Kebetulan suami juga berencana untuk kembali ke Jakarta pada hari selasanya. Iseng menanyakan jadwal dokter Obgyn saya pada hari itu, ternyata ada jadwal mendadak dan kuota sebanyak 5 pasien, saya langsung membuat perjanjian untuk kontrol mingguan pada malam harinya (semula jadwal kontrol mingguan saya seharusnya ada di hari Jumat sebelumnya, namun direschedule menjadi Jumat depannya waktu itu). Daripada menunggu jumat depan dan berhubung dokternya ada, saya juga memiliki beberapa keluhan yang ingin disampaikan ke dokter, akhirnya pada malam harinya saya, suami dan si kakak memeriksakan kehamilan saya yang sudah memasuki minggu ke 38 itu. Saat diperiksa oleh dokter, letak kepala janin sudah dibawah namun belum turun sekali, tanda-tanda kelahiran lain pun belum muncul selain kontraksi palsu yang saya alami pada hari minggu itu. Selebihnya kondisi jlso dede saat itu baik-baik saja dan kondisi saya pun baik, tinggal menunggu tanda-tanda kelahiran lain saja. Atas hasil pemeriksaan tersebut, kami pun lega namun pada saat keluar dari ruang dokter, saya kebelet pipis dan ternyata ada lumayan banyak flek yang keluar (padahal pada saat diruangan dokter dan ditanya apakah sudah ada flek, saya menjawab belum ada karena memang belum ada sebelum itu). Saya pun memberitahukan hal itu kepada suami, dan suami berinisiatif untuk menanyakan ke dokter lagi saja atau sekedar memberi tahu bahwa sudah ada flek. Namun saya menolak dan memilih menginformasikan hal tersebut melalui whatsapp saja kepada dokter obgyn karena malam itu sepulang dari rumah sakit kami bermaksud untuk mengajak si kakak makan malam bertiga dan lagi-lagi ke toko perlengkapan bayi. Selama di perjalanan malam itu, kami berpikir apakah keberangkatan suami besok ke Jakarta tetap dilanjutkan atau dibatalkan saja mengingat sudah ada tanda-tanda kelahiran dari si dede. Sesampainya dirumah, kami memberitahukan hal tersebut kepada orang tua dan akhirnya suami memutuskan untuk tidak jadi kembali ke Jakarta dan memberitahukan kondisi saya serta meminta izin kepada atasannya untuk menunggu beberapa hari lagi sampai hari kelahiran itu tiba. Sepanjang malam itu, kontraksi palsj terus terasa, namun saya dan suami masih santai dan hanya bisa menebak-nebak, mungkin dalam sehari atau dua hari kedepan barulah anak kedua kami ini lahir.

Lalu keesokan harinya, saya masih beraktivitas seperti biasa dengan suami yang siaga dan keluarga yang juga bersiap-siap. Flek ternyata masih keluar dan kram juga semakin teratur namun jaraknya masih belum berdekatan. Saya pun membereskan kamar dirumah dan menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit apabila nanti sewaktu-waktu kontraksi yang saya rasakan semakin teratur dan cepat. Saat itu suami masih bekerja dirumah dan kegiatan kami masih seperti biasa. Siang harinya kontraksi palsu yang saya rasakan semakin menjadi-jadi dan sehabis ashar, saya sudah bersiap-siap ke rumah sakit. Sekitar pukul setengah 5 sore karena rasa sakit semakin sering saya rasakan, saya dan suami bergegas untuk bersiap-siap ke rumah sakit. Kakak untuk sementara ditinggal di rumah bersama orang tua saya. Diperjalanan menuju rumah sakit, rasa sakit yang saya rasakan tiba-tiba menghilang dan saya sempat berkata kepada suami agar tidak langsung ke rumah sakit, tapi berkeliling dulu di jalan. Ketika kami membelokkan arah dan ingin berkeliling, tiba-tiba rasa sakit itu muncul lagi dan akhirnya kami kembali ke tujuan awal yaitu langsung ke rumah sakit saja. Sesampainya di rumah sakit, kami langsung ke IGD. Saya diperiksa dan suami mengurus administrasi. Setelah dicek CTG, ambil darah dan swab antigen, saya masih harus menunggu di IGD untuk dicek pembukaan. Saat dicek pembukaan, ternyata baru pembukaan 2.5 dan saya sudah dapat rawat inap. Saya dan suami menunggu diruang IGD cukup lama karena kamar rawat inap sedang disiapkan dan pihak IGD sedang menghubungi dokter Obgyn dan dokter anak. Lalu akhirnya kami kelaparan dan membeli makanan di kantin rumah sakit. Waktu menunggubitu juga sayabisi dengan menonton video oernapasan dan berlatih pernapasan di ruang IGD. Pada pukul 21.00 WITA akhirnya kami baru dapat masuk keruangan kamar rawat inap. Sesampainya di kamar, saya langsung dicek pembukaan kembali oleh bidan dan ternyata sudah pembukaan 5-6, karena sudah pembukaan 5-6 saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Saat dibawa keruangan bersalin saya masih merasa kelaparan dan masih menunggu makan malam yang sedang dibawakan oleh papa. Sesampainya di ruang bersalin dicek pembukaan lagi sudah pembukaan 8 dan papa datang untuk membawakan makanan. Saya makan disuapi oleh suami untuk menyiapkan tenaga saat proses persalinan nanti, namun karena rasa sakit pembukaan dan lapar, makan pun menjadi tidak karuan rasanya. Sampai dokter Obgyn datang, saya masih sempat dipersilakan untuk makan dulu dan saat dicek pembukaan sudah lengkap, dengan santainya Dokter dan bidan mengintruksikan cara persalinan ketika ada kontraksi dan rasa dorongan bayi ingin keluar. Saat muncul kontraksi dan dorongan bayi ingin keluar saya berusaha mengejan namun masih belum berhasil, dokter dan bidan pun masih santai dan mengobrol ketawa-ketiwi untuk menhilangkan suasana takut dan nervous persalinan. Suamipun juga masih sempat ikut dalam obrolan tersebut. Lalu ketika muncul kontraksi dan dorongan lagi saya masih berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan si dede dibantu doa dan dukungan oleh suami disamping saya dan keluarga dirumah. Tidak lama, setelah proses kontraksi dorongan kesekian kali dan mengejan kesekian kali akhirnya dokter berhasil mengambil dan mengeluarkan si dede. Tak lama terdengar suara tangisan bayi kecil itu dan saya bisa menyaksikannya lebih jelas dibanding saat melahirkan anak pertama dulu. Ternyata masih sama dengan si kakak, terdapat satu lilitan tali pusat pada si dede dan itu yang menyebabkan proses keluarnya agak lama. Alhamdulillah, tepat pada pukul 22.12 telah lahir anak kedua kami yang sudah melalui banyak cerita seru selama proses kehamilan sampai ke proses kelahirannya, seorang bayi laki-laki yang menjadi pelengkap kehidupan kami sejak detik itu.

Lalu setelah si dede keluar, dokter lanjut untuk menjahit sobekan selama proses persalinan saya  Kali ini, kaki saya tidak bergemetar seperti saat persalinan anak pertama, alhamdulillah. Setelah si dede  dibersihkan oleh bidan dan dicek oleh dokter spesialis anak, maka kami memulai IMD, proses IMD kali ini juga berbeda dengan persalinan pertama, prosesnya terasa lebih lama dan saya cukup puas dengan hal tersebut. Tak lama, si dede kembali dimasukkan kedalam ruangan bayi dan saya menunggu infusan obat habis, karena sewaktu setelah persalinan saya sempat merasa agak mual dan ingin muntah (mungkin karena asam lambung yang saya miliki selama ini) lalu dokter memasukkan obat lambung dalam infusan tersebut. Setelah sampai waktunya, saya dibawa kembali keluar dari ruang bersalin ke ruangan kamar. Si dede masih diobservasi dalam ruangan bayi. Saya dan suami lalu mencoba beristirahat (meskipun ternyata saya tidak bisa tidur sampai subuh karena memikirkan nama bayi yang belum sempat kami tentukan plus karena kebanyakan minum teh sepertinya wkkwkk).

Alhamdulillah malam itu merupakan malam terbahagia kesekian kalinya bagi saya, suami dan keluarga besar kami. Anak kedua yang kami tunggu-tunggu kelahirannya akhirnya dapat terlahir dengan selamat, lengkap, dan ternyata lebih cepat dari perkiraan. Banyak momen-momen di hari itu yang tidak dapat saya tuliskan dan pastinya merupakan momen yang tidak dapat saya lupakan sepanjang hidup saya. Kehadiran suami yang siap siaga dan menenangkan. Keberadaan keluarga serta doa dari semuanya merupakan anugerah terindah. Terima kasih banyak ya Allah atas semua yang telah saya lalui hingga saat ini.

Tidak sama dengan persalinan pertama, pada persalinan kedua ini, saya merasa lebih takut dan nervous dibanding persalinan pertama karena saat persalinan pertama proses yang diperlukan sejak pembukaan lengkap dan si kakak terlahir tergolong cukup lama. Namun ternyata di persalinan kedua ini, menurut saya dan suami prosesnya bisa lebih cepat dan lebih santai dari yang kami bayangkan sebelumnya.

Selanjutnya terima kasih saya sampaikan kepada suami yang raut wajah, ekspresi dan sikapnya di hari itu tidak permah saya akan lupakan, terima kasih atas doa serta selalu mendampingi saya dimasa-masa kehamilan hingga proses menuju persalinan. Terima kasih kepada si dede yang telah bekerja sama dengan baik sejak awal hingga persalinan. Terima kasih kepada si kakak yang banyak mengajarkan kami hal-hal baru dalam kehidupan menjadi orang tua dan sudah sabar dan pintar selama ketidakhadiran kami sekitar 2 hari saat di rumah sakit. Terima kaaih kepada kedua orangtua saya yang telah melahirkkan dan membesarkan saya hingaa saat ini. Terima kasih kepada mertua saya yang telah melahirkan anak-anak serta suami terbaik saya. Terima kasih kepada perawat, bidan, dan dokter yang telah merawat saya selama kehamilan dan membantu proses persalinan saya. Terima kasih kepada seluruh keluarga dan sahabat yang memberikan doa dan semangat kepada kami.

Semoga kita semua selalu merasa cukup dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita dapat menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik di tiap fase kehidupan kita. Aamiin.

Monday, October 19, 2020

Hikmah Dari Masa Pandemi: WFH Bersama Bayi

Alhamdulillah, tidak terasa tanggal 16 Oktober 2020 lalu, bayi kecil saya sudah memasuki usia 6 bulan. Rasa syukur yang tak terhingga karena saya benar-benar tidak menyangka bisa mendampinginya di rumah sampai usia 6 bulan. Seperti kebanyakan ibu bekerja lainnya, biasanya di usia bayi 2 bulan ibu bekerja sudah mulai aktif bekerja di kantor kembali setelah masa cuti melahirkan selesai, namun Allah berkehendak sangat baik, saya masih mendapat kesempatan untuk berdekatan dengan bayi saya tanpa harus kembali bekerja langsung ke kantor. Ya, semenjak masa pandemi, terdapat beberapa kebijakan bagi para pegawai, salah satunya adalah bekerja dari rumah atau biasa disebut Work From Home (WFH). Alhamdulillah saya termasuk salah satu yang beruntung mendapat kebijakan dari atasan untuk melaksanakan WFH dan itu artinya meskipun sambil bekerja, saya tetap bisa berada di rumah sambil melihat tumbuh kembang bayi saya setiap hari.

Seperti kata orang, pasti ada hikmah dibalik sebuah peristiwa, bagi saya pandemi tahun ini membawa banyak sekali perubahan, beberapa membuat kita tidak bisa melakukan aktivitas layaknya biasa, namun beberapa juga memiliki hikmah kebaikan.

Wednesday, April 22, 2020

Fase Kehidupan Baru Dimulai : Cerita Melahirkan Anak Pertama

Gambar diambil dari Pinterest.

Seminggu yang lalu, Rabu 15 April 2020 merupakan salah satu hari yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup saya. Hari itu untuk pertama kalinya tanda-tanda kelahiran si bayi mulai datang setelah 5 hari menunggu karena lewat dari HPL HPHT. Subuh ketika masuk kamar mandi saya menemukan bercak darah pada pakaian dalam saya (maaf jika kalimat dan bahasa yang digunakan kurang berkenan). Namun pada saat itu saya belum memberitahukan hal tersebut kepada suami dan orangtua meskipun sebenarnya saya sudah mulai excited dan deg-degan sambil bertanya dalam hati, apakah ini pertanda si bayi akan segera lahir? Lalu paginya, flek darah semakin jelas tampak hingga siang hari semakin bertambah banyak. Saya pun akhirnya memberitahukan hal tersebut kepada suami melalui chat dan kepada orangtua serta mertua saya. Pada awalnya saya hanya memberitahukan kepada suami bahwa sepertinya si bayi akan segera lahir karena saya sudah mulai merasakan kram perut seperti menstruasi yang merupakan tanda-tanda seperti kontraksi, kemudian barulah saya memberitahu dia bahwa saya sudah mengalami fase keluar flek darah yang merupakan pertanda kelahiran kemungkinan akan segera terjadi. Mengetahui hal tersebut, suami saya yang memang sedang bekerja di luar kota langsung memutuskan untuk membeli tiket pesawat ke Banjarmasin untuk keesokan harinya agar bisa menemani saya selama proses persalinan. Keputusan tersebut diambil ditengah-tengah wabah pandemi yang saat ini sedang terjadi di Indonesia, disaat aktivitas perjalanan sedang dibatasi dan akses kemana-mana menjadi sedikit lebih sulit.

Selanjutnya, meskipun flek terus bertambah, namun kontraksi yang saya rasakan masih jarang terjadi dan sore harinya atas saran dari suami, keluarga dan teman, saya akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke bidan di dekat rumah bersama dengan orangtua saya. Hasil pemeriksaan dari bidan tersebut adalah saya telah mengalami pembukaan satu dengan kepala bayi sudah dibawah masuk panggul serta kondisi leher rahim yang tipis. Berdasarkan hal tersebut, bidan memberikan perkiraan bahwa kemungkinan lahiran akan terjadi malam atau keesokan harinya dan bisa berjalan dengan normal asalkan kondisi saya kuat dan pembukaan berlangsung cepat. Sayapun disarankan untuk terus melakukan squad, jalan kaki, dan bermain gymball jika ada selama menunggu proses pembukaan semakin bertambah. Setelah itu, saya kembali ke rumah dan memberitahukan update informasi tersebut kepada suami serta mertua saya. Di rumah, saya kemudian melakukan apa yang disarankan oleh bidan tersebut sambil bertanya kepada beberapa teman yang telah melahirkan mengenai tanda-tanda kelahiran dan pengalaman mereka.

Malam harinya kontraksi yang saya rasakan masih biasa dan jarang, hingga saya pun tidur seperti biasa. Namun sekitar pukul 1 malam, saya terbangun dan mulai merasakan kontraksi yang lebih sakit dan mulai beraturan berdasarkan aplikasi kontraksi yang saya download di smartphone saya. Sambil menikmati kontraksi yang terjadi saya memberitahukan hal tersebut kepada suami melalui chat dan dia langsung melakukan video call untuk memberikan saya semangat dan doa agar saya kuat dan persalinan nanti berjalan lancar. Perasaan saya pun menjadi semangat dan lega mengingat hari itu akan bertemu dia, entah pada saat sebelum lahiran atau setelah lahiran. Setelah selesai video call, saya berusaha menenangkan diri sambil merasakan setiap kontraksi yang terjadi, terkadang saya bolak-balik kamar saya dan kamar mama selama proses tersebut. Kontraksi yang terjadi mulai pukul 1 malam tersebut berjarak sekitar setengah jam sekali hingga akhirnya 5 menit sekali pada sekitar pukul 4 subuh. Sakitnya terasa dari depan panggul hingga ke tulang belakang, namun saya masih bisa tertawa, bicara dengan normal, masih biasa meskipun ada rasa sakit. Sebenarnya sejak kontraksi semakin intens, saya ingin segera pergi ke rumah sakit, namun mengingat hari masih tengah malam dan hujan saat itu, maka saya memutuskan untuk ke rumah sakit setelah subuh. Sekitar pukul 4 menghubungi mertua saya untuk mengantarkan ke rumah sakit, saya lalu menghubungi suami bahwa saya akan segera ke rumah sakit. Entah apa yang dirasakan oleh suami saya setelah saya memberi kabar tersebut karena setelah itu saya sama sekali tidak menyentuh smartphone saya, namun bertanya-tanya dalam hati, apakah yang suami saya rasakan? Apakah sama seperti saya, excited, bahagia, takut, deg-degan, semua jadi satu.

Setelah adzan subuh kami pergi ke rumah sakit dan masuk ke bagian IGD karena saat itu yang buka hanya di bagian IGD. Kebetulan rumah sakit dekat dengan rumah kami, sehingga kami tidak perlu menempuh perjalanan yang lama. Sesampainya disana saya diperiksa oleh dokter jaga dan memberitahukan kondisi saya bahwa telah mengalami kontraksi setiap 5 menit sekali, namun ketika dari rumah, perjalanan, hingga sampai rumah sakit rasa tersebut mulai berkurang, tidak terlalu intens seperti sebelumnya. Setelah itu, saya bersama mama dan bapak mertua masih sempat ke bagian administrasi untuk mengurus rawat inap dan lain-lain. Kemudian, saya kembali ke IGD untuk diperiksa lebih lanjut oleh bidan rumah sakit, mulai dari tensi, pengambilan sampel darah untuk cek laboratorium, dan CTG. Pada saat dilakukan pengecekan di IGD oleh bidan pagi itu, pembukaan saya hanya bertambah sedikit yaitu menjadi pembukaan 3. Kemudian selang beberapa menit dokter kandungan saya datang dan mengecek pembukaan menjadi pembukaan 4. Setelah dari ruang IGD, saya diantarkan ke ruang rawat inap untuk menunggu pembukaan lengkap. Karena saya akan melahirkan ditengah-tengah pandemi, maka rumah sakit memiliki peraturan sendiri dan ketat untuk para pasien dan tamu. Pada saat itu, hanya dua orang yang boleh menunggu dan menjaga saya selama di kamar dan tidak boleh ada tamu yang berkunjung. Saya saat itu dijaga oleh mama dan mama mertua yang datang bergantian dengan bapak mertua serta ayah saya sembari menunggu suami datang. Hari itu suami saya dijadwalkan akan tiba di Banjarmasin pada sore hari.

Selanjutnya, setelah masuk ke kamar rawat inap, sekitar pukul 8 pagi, bidan melakukan pengecekan kembali dan pembukaan saya masih di pembukaan 4, hingga pukul 11 sampai dengan pukul 1 pembukaan masih di pembukaan 4. Pukul 3 sore pembukaan bertambah satu menjadi pembukaan 5 dan pada pukul 6 lewat dicek kembali pembukaan saya masih di pembukaan 6. Berdasarkan informasi dari bidan, seharusnya jika cepat dan normalnya pembukaan akan bertambah 1 cm setiap 1 jam sekali, namun pada saya pembukaan berlangsung lama. Sempat terpikir untuk minta diinduksi agar pembukaan bisa cepat namun hal tersebut tidak jadi dilakukan. Selama menunggu pembukaan bertambah dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore, saya terus berusaha melakukan squad perlahan dan berjalan mondar mandir di kamar, flek darah bersama lendir pun semakin bertambah. Begitu pula rasa sakit pembukaan juga semakin bertambah sampai saya merasa tidak bisa merespon setiap omongan yang mengajak saya bicara, saya hanya berpegangan pada tempat tidur dan minta dielus bagian punggung oleh mama sambil belajar mengatur nafas. Selanjutnya setelah pukul 6 dilakukan pengecekan oleh bidan, mama menyarankan saya untuk makan dulu agar nanti jika harus ke ruang bersalin saya memiliki cukup tenaga selama proses persalinan mengingat jika pembukaan saya normal, di pukul 8 harusnya saya sudah memasuki pembukaan 10.

Selama menunggu pembukaan dari sore hingga suami datang, saya ditunggu oleh orangtua saya. Pada pukul setengah 7 setelah magrib akhirnya suami saya datang ke rumah sakit. Sebenarnya  suami saya sudah sampai di Banjarmasin pada pukul 3 sore, sebelumnya pun sejak pagi dia selalu memantau perkembangan saya melalui mertua maupun melalui ibu saya. Namun dia tidak langsung ke rumah sakit karena harus mandi dan bersih-bersih dulu sebelum menemui saya mengingat dia habis melakukan penerbangan dari Bali transit Surabaya lalu ke Banjarmasin. Setelah suami saya datang dan mandi lagi di rumah sakit, mama lalu bergantian dengan suami untuk mandi dan suami saya melanjutkan untuk menjaga dan mengelus bagian punggung hingga tulang belakang saya. Sempat ketika itu suami saya ingin makan, tiba-tiba datang dua orang bidan mengetuk pintu. Kami pikir mereka datang untuk melakukan pengecekan pembukaan lagi, ternyata saat itu juga saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Tidak jadi makan, suami saya pun ikut mendampingi saya ke ruangan bersalin sementara mama masih di kamar mandi. Benar ternyata seluruh afirmasi positif yang saya dan suami berikan kepada si bayi sejak dalam kandungan, serta omongan suami yang menginginkan si bayi keluar menunggu ayahnya datang dulu, dan itu akhirnya terjadi. Suami bisa mendampingi saya selama proses persalinan, alhamdulillah.

Perjalanan dari ruang rawat inap ke ruang bersalin sangat dekat, sesampainya disana, sakit yang saya rasakan semakin bertambah dan sering frekuensinya, saya hanya bisa mengingat Allah, membaca beberapa amalan sambil berusaha mengatur nafas. Sembari menunggu, suami saat itu sempat bercanda dengan meniru cara saya mengatur nafas, lucu tapi saya menjadi galak namun agak merengek dan mengatakan bahwa saat ini saya tidak bisa diajak bercanda. Saya minta dia mendoakan saya kuat dan senang dalam proses persalinan yang sudah semakin dekat. Kemudian bidan melakukan pengecekan kembali diruang bersalin sambil menyiapkan peralatan yang akan digunakan selama proses persalinan. Saat itu sudah masuk bukaan 8. Selang 15 menit kemudian saya tidak kuat karena ada rasa yang mendorong di bagian pantat saya seperti ada sesuatu yang besar ingin keluar. Suami pun memencet bel untuk memanggil bidan dan saat bidan datang melakukan pengecekan ternyata sudah bukaan 9 hampir lengkap 10 dan tinggal menunggu dokter yang sedang on the way.

Sampai di pembukaan lengkap, dokter masih belum datang namun bidan dan perawat disana menginstruksikan bahwa ketika sudah muncul rasa dorongan seperti ingin buang air besar serta kontraksi yang sangat kuat, maka saya dapat mengejan sesuai dengan teknik mengejan yang sudah diajarkan oleh mereka. Beberapa kali muncul rasa kontraksi yang kuat dan dorongan seperti ingin buang air besar, tapi air ketuban saya masih belum pecah dan kepala bayi pun belum terdorong kebawah. Saking gugup dan excitednya, sekujur tubuh saya saat itu spontan menjadi gemetar. Bidan pun meminta suami saya untuk memberikan minuman manis yang kemudian mereka pesankan. Suami saya dengan sabar disamping saya memberikan minum teh manis hangat untuk menambah tenaga saya ketika nanti mengejan. Masih menunggu, bidan dan perawat pun sempat bercanda dengan saya dan mengatakan bahwa si bayi maunya menunggu lahiran dengan dokter dan dandan dulu sebelum ketemu dokter nyahaha. Beberapa menit kemudian dokter datang dan saya masih bisa senyum-senyum dengan bidan dan suami karena rasa sakit pembukaan sudah tidak terasa dan kontraksi pun kadang datang kadang pergi. Karena tidak merasa sakit, saya diinfus dan sepertinya dimasukan cairan untuk membuat saya merasakan kontraksi hebat lagi. Setelah merasakan kontraksi hebat dan dorongan saya diminta mengejan, berkali-kali namun belum berhasil hingga setengah jam telah berlalu. Akhirnya dokter memecah ketuban saya dan air ketuban pun tumpah. Suami sempat bertanya kepada dokter, itu air ketuban dok? Iya kata dokter. Lalu saya diminta lagi mengejan ketika sakit kontraksi dirasa sangat sakit dengan teknik yang sudah diajarkan, namun cara saya mengejan tidak stabil, kadang benar kadang salah, mengejan seperti orang ingin buang air besar, kadang mengejan di tenggorokan. Setiap ambil nafas panjang dan mengejan seperti orang ingin buang air besar, lalu nafas saya mau habis dan ketika menarik nafas lagi, teknik mengejan saya menjadi salah lagi, di tenggorokan lagi. Begitu berkali-kali sampai dokter dan bidan pun agak kesal karena saya salah mengejan. Ketika benar, nafas saya tidak cukup. Suami yang berada disamping saya pun terus menyemangati bersama para bidan dan dokter ketika saya mengejan, namun tetap belum berhasil hingga akhirnya dokter menggunting jalan lahir saya dua kali dan itupun saya tidak merasa kesakitan. Setelah digunting dan kontraksi, saya tetap salah mengejan namun tetap disupport oleh mereka semua yang ada disana. Suami terus membisikkan kalimat semangat dan doa untuk saya. Sampai setengah jam dari ketuban saya dipecahkan oleh dokter, si bayi masih belum bisa saya dorong keluar, akhirnya dokter pun memberikan shock theraphy kepada saya, entah itu untuk memacu semangat saya atau memang karena sudah terlalu lama, hampir sejak dokter datang dan setengah jam sejak ketuban pecah, dokter mengatakan bahwa ini sudah terlalu lama, semuanya sekarang ada di saya, saya selalu salah mengejan dan diminta pelajari lagi cara mengejan yang benar bukan di tenggorokan, jika terus begitu maka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan si bayi, SC pun sudah tidak bisa karena kepala bayi sudah dibawah, rahim sudah dibawah. Mendengar perkataan dengan nada yang bagi saya menyeramkan tersebut, saya agak kecewa dan sedih, karena saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk berusaha mengejan dengan benar, tidak ada satupun niat saya melakukan kesalahan dalam mengejan ataupun membahayakan keadaan si bayi saat itu. Kemudian yang ada dipikiran saya adalah saya ingin menyelamatkan dan mengeluarkan si bayi yang sudah saya dan suami tunggu selama ini dengan selamat ke dunia, saya ingin melihat dia terlahir. Saya tidak ingin perjuangan yang saya lakukan selama ini bersama suami dan orang-orang yang mendukung saya sia-sia. Maka ketika rasa kontraksi yang kuat berikutnya muncul, saya berusaha sekuat tenaga mengejan sesuai dengan arahan dokter dan bidan, tidak perduli apapun, tidak pernah saya lupa dorongan, semangat dan doa dari suami yang berada disamping saya, serta para bidan dan dokter yang menyemangati kembali hingga akhirnya terasa seperti ada yang keluar dari jalan lahir saya. Ketika itu dokter langsung menarik kepala bayi saya dan mengeluarkannya, si bayi yang terlilit dengan satu lilitan itu akhirnya mengeluarkan tangisan pertamanya. Samar-samar saya lihat untuk pertama kali bayi itu dari pandangan mata saya yang tidak mengenakan kacamata wkkwkk. Terdengar ucapan syukur dari suami disamping saya sambil mencium kening saya saat itu dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Sungguh momen yang tidak pernah akan saya lupakan seumur hidup saya. Perasaan bahagia melebihi dari apapun saat itu. Alhamdulillah telah lahir anak pertama kami, seorang perempuan pada pukul 21.37 WITA tanggal 16 April 2020 di Banjarmasin.

Setelah itu bayi langsung diangkat oleh bidan dan dokter mengeluarkan plasenta. Kemudian bayi diserahkan kembali ke dada saya untuk proses inisiasi menyusui dini, bersama dengan suami disamping saya. Kemudian setelah proses itu selesai, bidan memberikan saya ucapan selamat dan meminta saya untuk mencium bayi saya dan selanjutnya membawanya untuk dibersihkan. Suami pun terlihat sibuk sambil memegang smartphonenya memberikan  kabar bahagia kepada orangtua saya dan mertua serta adik-adik saya. Kemudian suami saya dipanggil untuk menemani si bayi dibersihkan sementara saya melakukan proses penjahitan oleh dokter dan seorang bidan. Suami kemudian melantukan qomat dan bertemu dengan dokter anak kami untuk dijelaskan beberapa informasi singkat atas kelahiran anak kami. Suami kemudian mondar mandir dari ruang bersalin dan ruangan bayi yang jaraknya dekat dan terlihat dari ruang bersalin. Terlihat rona bahagia dan bangga dari wajah suami saya dan itu cukup menenangkan saya. Penantian kami selama ini akhirnya terwujudkan. Tampak juga dari ruang bersalin ibu saya mendatangi si bayi di ruangan bayi dengan ekspresi bahagia luar biasa. Sambil dijahit, suami kembali ke ruangan saya dan memberikan saya kurma dan teh manis. Lalu dia kembali ke ruangan bayi untuk mengabadikan momen pertama bayi kami dan membagikannya dengan keluarga kami. Lalu suami bergantian dengan ayah mertua saya yang sebelumnya menunggu di parkiran bersama seluruh anggota keluarga.

Setelah proses penjahitan selesai dan dokter pulang. Seluruh badan saya dibersihkan oleh bidan dan kemudian diantarkan kembali ke kamar rawat inap bersama suami dan mama sedangkan si bayi masih di ruangan bayi untuk proses pemeriksaan sesuai prosedur dari rumah sakit untuk bayi baru lahir. Sesampainya dikamar, saya diminta untuk makan oleh bidan agar bisa mengonsumsi obat yang diberikan. Suami dan mama serta keluarga dirumah pun bisa tidur dengan bahagia menyambut kelahiran si bayi, putri pertama kami. Sekitar pukul 1 malam, kemudian suster dan bidan mengantarkan putri kami ke kamar untuk tidur dan diberikan ASI oleh saya.

Malam itu merupakan malam yang sangat membahagiakan bagi saya, suami serta seluruh keluarga kami. Tidak akan pernah saya lupakan setiap momen yang saya lewati saat itu dan orang-orang yang selalu mendoakan serta mendampingi saya kala menunggu proses persalinan hingga putri kami tersebut dilahirkan. Setiap momen saat itu akan terekam indah dalam memori yang melengkapi setiap fase kehidupan saya.

Teruntuk suamiku tersayang, terima kasih telah berusaha sebaik mungkin mendampingiku baik di kala jauh, diperjalanan, hingga proses persalinan berlangsung. Akan selalu teringat potretmu di kala menemaniku sore hingga malam membahagiakan itu. Akan selalu teringat kata dan lantunan doamu dikala mendampingiku sore hingga malam itu.  
Teruntuk mamaku tersayang, terima kasih atas semua yang telah kau berikan kepadaku sejak aku dalam kandunganmu hingga saat aku menulis cerita ini dan selamanya. Ku tahu cinta dan kasih sayangmu kekal abadi untukku dan takkan bisa ku balas sampai kapanpun. Maafkan jika aku pernah menyakiti hati dan perasaanmu, mama. 
Teruntuk mama mertuaku tersayang, terima kasih telah melahirkan seorang anak dan suami yang terbaik untukku, telah menganggapku sama seperti anakmu sendiri. Kini kutahu perjuangan kalian para ibu, sejak mengandung hingga membesarkan anak-anak kalian sampai menjadi seperti sekarang ini, amatlah berharga dan takkan terbalaskan. 
Teruntuk seluruh keluarga yang mendoakan dan ikut menunggu hingga malam dari kejauhan atas kelahiran putri kami, terima kasih karena berkat doa kalian jugalah putri kami dapat terlahir dengan selamat dan sehat. 
Teruntuk bidan, dokter, dan seluruh tenaga medis yang membantu saya di rumah sakit, terima kasih atas support, perawatan, dan seluruh jasa kalian dalam membantu proses persalinan saya yang sangat mengesankan bagi saya.

Thursday, April 9, 2020

Renungan Malam: Jelang Fase Menjadi Orang Tua

Gambar diambil dari pinterest 

Malam ini tiba-tiba saya menjadi melow setelah merenungkan beberapa hal yang ada dipikiran. Salah satunya yaitu peran yang akan berubah dari seorang anak, seorang istri, kemudian akan menjadi orang tua bagi anak yang saat ini sedang saya nantikan kelahirannya.

Sejak lahir sampai dengan usia 18 tahun, seluruh waktu saya, saya habiskan hampir selalu bersama dengan orangtua. Baru semenjak kuliah saya mulai hidup berjauhan dengan orangtua. Waktu untuk berkumpul saat masih kuliah itupun sangat sedikit jika dibandingkan dengan anak kuliah lain yang bisa libur sampai sebulan lebih. Oleh karenanya sejak saat itu, saya mulai kehilangan waktu kebersamaan dengan orangtua dan hal tersebut yang selalu membuat saya galau dan sedih, jauh di lubuk hati terdalam ingin saya menangis tiap ingat betapa sedikitnya waktu yang bisa saya habiskan bersama mereka.

Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, hingga waktu terus berlalu, saya lulus kuliah dan melanjutkan ekstensi lalu mendapat pekerjaan di tempat perantauan. Rasa rindu sering menghampiri dan ketika rasa rindu itu datang, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman, berkumpul dengan orangtua, meskipun hanya sebentar, hanya seminggu atau paling lama dua minggu. Kemudian waktu terus berjalan sampai kepada fase dimana saya menikah dan sekarang akan menjadi seorang ibu, menjadi orangtua. Di fase inilah muncul renungan dimana saya sebagai seorang anak yang akan menjadi orangtua bagi anak-anak saya nanti. Banyak hal-hal yang dulu belum saya rasakan ketika masih menjadi seorang anak, baik itu perasaan melankolis menjadi orangtua dan membesarkan anak nanti maupun perasaan orangtua saya terhadap saya selama ini. Saya baru menyadari bahwa begitu banyak waktu yang saya lewatkan untuk mereka kedua orangtua saya. Saya sering berbuat salah, mengecewakan mereka, atau pernah membuat mereka marah. Sejelek apapun hal yang pernah saya perbuat kepada mereka, semarah apapun atau sesedih apapun mereka, secuek apapun mereka saat hari-hari biasa, namun ketika anaknya berada pada saat terendah atau tersulit, mereka tidak akan pernah meninggalkan saya, mereka akan selalu ada untuk saya. Ketulusan hati kedua orangtua, tidak akan pernah bisa terbalaskan oleh seorang anak dan saya meresapi hal tersebut, sangat meresapi hal tersebut semenjak beberapa tahun terakhir, apalagi ketika saya menyadari bahwa kedua orangtua saya tidak akan selalu muda, mereka menua seiring dengan waktu yang berjalan. Mereka yang dulu memiliki stamina maksimal, kini stamina tersebut mulai menurun. Mereka yang dulu bisa makan apapun dengan porsi berapapun, kini harus semakin menjaga pola makan sehat, mereka yang dulu kini telah menua. Dan di hari tua mereka, selalu saya selipkan doa agar mereka bahagia menikmati hari tua mereka, diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk berbuat kebaikan dan terus mengasihi saya sebagai anaknya, mengasihi cucu-cucunya kelak. Aamiin. Allahumma amiin.

Membayangkan posisi kedua orangtua tersebut akan saya jalani kemudian bersama suami, membuat perasaan malam ini semakin melow. Saya mulai mengerti betapa sedihnya perasaan orangtua yang harus hidup berjauhan dengan anak mereka. Betapa sedihnya melepaskan anak yang selama ini bersama mereka hampir 24 jam dalam seminggu untuk pergi jauh dari mereka. Tapi mereka memilih untuk tegar dan menahan kesedihan serta kekhawatiran mereka demi anak-anak mereka. Segalanya akan mereka berikan demi kebahagiaan si anak. Kini, sebagai seorang anak yang akan menjadi orangtua, semua perasaan orangtua tersebut akhirnya bisa saya rasakan mendalam. Haru rasanya merenungi hal tersebut. Kini, sebagai seorang anak yang akan menjadi orangtua, yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah terus mendoakan kebahagiaan orangtua saya di masa tuanya, berbakti kepada mereka, dan terus menyayangi serta berbuat kebaikan untuk mereka, meskipun seberapa banyak hal baik yang telah saya lakukan tersebut tidak mampu menggantikan seluruh pengorbanan dan kebaikan mereka. Kini, sebagai seorang anak yang akan menjadi orangtua, yang bisa saya lakukan kelak ketika anak-anak saya telah lahir adalah berusaha sebaik mungkin menjadi orangtua terbaik, yang memberikan segalanya kepada anak-anak saya, apapun dan sampai kapanpun, akan selalu menjaga dan menyayangi mereka, memberikan yang terbaik sebisa saya mampu untuk mereka. Sama seperti yang telah dilakukan oleh orangtua saya kepada saya, seluruh kebaikan, cinta tulus mereka, yang takkan lekang oleh waktu pada anak-anaknya.

Tuesday, March 10, 2020

Akhirnya Cuti Melahirkan


Alhamdulillah setelah menjalani kehamilan sambil bekerja dengan berbagai macam rintangannya, tiba waktunya untuk bisa mengambil cuti melahirkan dan pulang kampung.

Sejak awal mengetahui bahwa hamil, saya tidak pernah bepergian naik pesawat karena khawatir tidak kuat saat diperjalanan kalau bepergian sendiri, jadi kalaupun ingin bertemu dengan suami dan orangtua, cukup mereka yang datang mengunjungi saya. Bagi sebagian orang hamil mungkin aman dan nyaman saja bepergian naik pesawat, tapi untuk saya dengan kondisi yang saya cukup tahu, maka saya lebih memilih bersabar untuk tidak bepergian kala itu.

Sekarang alhamdulillah waktu cuti melahirkan itu sudah tiba, satu bulan sebelum HPL dan dua bulan setelah melahirkan. Doa saya semoga waktu cuti ini benar-benar pas sebulan sebelum lahiran agar sebulan di akhir masa kehamilan ini bisa saya manfaatkan sebaik mungkin untuk banyak beristirahat dari rutinitas biasa saat bekerja. Bisa lebih fokus mempersiapkan persalinan dan setelah persalinan nanti.

Sebelum pulang ke Banjarmasin untuk cuti, saya sempat terserang sakit lagi hingga akhirnya susah untuk bekerja dan memilih beristirahat di kosan. Ternyata Hb saya semakin rendah, ulu hati saya terus-terusan sakit hingga terdapat infeksi karena saya sempat demam beberapa hari. Sakit dan lemah, sampai setiap makanan yang saya makan harus keluar lagi, makan sedikit saja ulu hati sudah sakit, nafsu makan sampai menghilang karena setiap makanan yang saya makan itu dibeli bukan dibuat sendiri, demam yang sangat membuat gelisah dan semakin susah tidur di malam hari, belum lagi keadaan saya sendiri di kosan membuat saya hampir menyerah saat itu. Keadaan suami yang jauh dan saat itu sedang diklat membuat dia tidak bisa datang dan hanya bisa video call untuk saling support, agar saya kembali pulih dan janin tetap sehat. Kemudian alhamdulillah akhirnya kami memutuskan agar ibu saya yang datang untuk merawat saya. Mendadak saat itu juga kami meminta ibu untuk datang ke Jakarta. Seminggu atau kurang lebih 10 hari sebelum waktu cuti akhirnya keadaan saya berangsur-angsur membaik seiring dengan kedatangan ibu yang membantu menyemangati dan merawat hingga memperbaiki pola makan dan hidup saya. Saya juga semakin bersemangat agar cepat pulih demi bisa sehat saat nanti melakukan penerbangan untuk pulang kampung dan terutama demi janin ini agar pertumbuhan dan perkembangannya tidak terpengaruh karena menurunnya kesehatan saya waktu itu.

Sampai tiba waktu kepulangan ke Banjarmasin, waktu itu kami memilih penerbangan di hari sabtu dan saya didampingi oleh ibu dan suami. Alhamdulillah perjalanan kami dari Jakarta ke Banjarmasin dimudahkan dan dilancarkan, meskipun saya tiba-tiba kembali merasa mual dan lemas ketika di dalam pesawat, apalagi ketika ada turbulensi. Tapi akhirnya kami sampai dengan selamat dan lancar dan dijemput oleh ayah mertua saya.

Perjalanan hari itu terasa sangat melelahkan namun menyenangkan karena saya didampingi oleh dua orang yang sangat berharga di hidup saya plus seorang calon bayi yang akan jadi pelengkap hidup dan pernikahan saya. Lebih dari pelengkap bahkan segalanya bagi saya. Hhu.. jadi terharu, alhamdulillah.

Hari ini, sudah hari keempat saya berada di Banjarmasin, mulai menjalani cuti melahirkan, suami sudah kembali bekerja di pulau seberang dan saya tinggal bersama orangtua. Rasa syukur tiada henti saya haturkan kepada Allah, akhirnya saya bisa beristirahat dan berkumpul lagi dengan orangtua, meskipun belum lengkap rasanya karena sementara ini tetap harus berjauhan dengan suami yang kehadirannya selalu saya rindukan. Semoga cuti melahirkan ini benar-benar bisa saya manfaatkan sebaik mungkin untuk me time, family time, dan pastinya untuk janin saya tersayang. Aamiin. Alhamdulillah wa syukurilah.