![]() |
| Gambar diambil dari Pinterest. |
Seminggu yang lalu, Rabu 15 April 2020 merupakan salah satu hari yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup saya. Hari itu untuk pertama kalinya tanda-tanda kelahiran si bayi mulai datang setelah 5 hari menunggu karena lewat dari HPL HPHT. Subuh ketika masuk kamar mandi saya menemukan bercak darah pada pakaian dalam saya (maaf jika kalimat dan bahasa yang digunakan kurang berkenan). Namun pada saat itu saya belum memberitahukan hal tersebut kepada suami dan orangtua meskipun sebenarnya saya sudah mulai excited dan deg-degan sambil bertanya dalam hati, apakah ini pertanda si bayi akan segera lahir? Lalu paginya, flek darah semakin jelas tampak hingga siang hari semakin bertambah banyak. Saya pun akhirnya memberitahukan hal tersebut kepada suami melalui chat dan kepada orangtua serta mertua saya. Pada awalnya saya hanya memberitahukan kepada suami bahwa sepertinya si bayi akan segera lahir karena saya sudah mulai merasakan kram perut seperti menstruasi yang merupakan tanda-tanda seperti kontraksi, kemudian barulah saya memberitahu dia bahwa saya sudah mengalami fase keluar flek darah yang merupakan pertanda kelahiran kemungkinan akan segera terjadi. Mengetahui hal tersebut, suami saya yang memang sedang bekerja di luar kota langsung memutuskan untuk membeli tiket pesawat ke Banjarmasin untuk keesokan harinya agar bisa menemani saya selama proses persalinan. Keputusan tersebut diambil ditengah-tengah wabah pandemi yang saat ini sedang terjadi di Indonesia, disaat aktivitas perjalanan sedang dibatasi dan akses kemana-mana menjadi sedikit lebih sulit.
Selanjutnya, meskipun flek terus bertambah, namun kontraksi yang saya rasakan masih jarang terjadi dan sore harinya atas saran dari suami, keluarga dan teman, saya akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke bidan di dekat rumah bersama dengan orangtua saya. Hasil pemeriksaan dari bidan tersebut adalah saya telah mengalami pembukaan satu dengan kepala bayi sudah dibawah masuk panggul serta kondisi leher rahim yang tipis. Berdasarkan hal tersebut, bidan memberikan perkiraan bahwa kemungkinan lahiran akan terjadi malam atau keesokan harinya dan bisa berjalan dengan normal asalkan kondisi saya kuat dan pembukaan berlangsung cepat. Sayapun disarankan untuk terus melakukan squad, jalan kaki, dan bermain gymball jika ada selama menunggu proses pembukaan semakin bertambah. Setelah itu, saya kembali ke rumah dan memberitahukan update informasi tersebut kepada suami serta mertua saya. Di rumah, saya kemudian melakukan apa yang disarankan oleh bidan tersebut sambil bertanya kepada beberapa teman yang telah melahirkan mengenai tanda-tanda kelahiran dan pengalaman mereka.
Malam harinya kontraksi yang saya rasakan masih biasa dan jarang, hingga saya pun tidur seperti biasa. Namun sekitar pukul 1 malam, saya terbangun dan mulai merasakan kontraksi yang lebih sakit dan mulai beraturan berdasarkan aplikasi kontraksi yang saya download di smartphone saya. Sambil menikmati kontraksi yang terjadi saya memberitahukan hal tersebut kepada suami melalui chat dan dia langsung melakukan video call untuk memberikan saya semangat dan doa agar saya kuat dan persalinan nanti berjalan lancar. Perasaan saya pun menjadi semangat dan lega mengingat hari itu akan bertemu dia, entah pada saat sebelum lahiran atau setelah lahiran. Setelah selesai video call, saya berusaha menenangkan diri sambil merasakan setiap kontraksi yang terjadi, terkadang saya bolak-balik kamar saya dan kamar mama selama proses tersebut. Kontraksi yang terjadi mulai pukul 1 malam tersebut berjarak sekitar setengah jam sekali hingga akhirnya 5 menit sekali pada sekitar pukul 4 subuh. Sakitnya terasa dari depan panggul hingga ke tulang belakang, namun saya masih bisa tertawa, bicara dengan normal, masih biasa meskipun ada rasa sakit. Sebenarnya sejak kontraksi semakin intens, saya ingin segera pergi ke rumah sakit, namun mengingat hari masih tengah malam dan hujan saat itu, maka saya memutuskan untuk ke rumah sakit setelah subuh. Sekitar pukul 4 menghubungi mertua saya untuk mengantarkan ke rumah sakit, saya lalu menghubungi suami bahwa saya akan segera ke rumah sakit. Entah apa yang dirasakan oleh suami saya setelah saya memberi kabar tersebut karena setelah itu saya sama sekali tidak menyentuh smartphone saya, namun bertanya-tanya dalam hati, apakah yang suami saya rasakan? Apakah sama seperti saya, excited, bahagia, takut, deg-degan, semua jadi satu.
Setelah adzan subuh kami pergi ke rumah sakit dan masuk ke bagian IGD karena saat itu yang buka hanya di bagian IGD. Kebetulan rumah sakit dekat dengan rumah kami, sehingga kami tidak perlu menempuh perjalanan yang lama. Sesampainya disana saya diperiksa oleh dokter jaga dan memberitahukan kondisi saya bahwa telah mengalami kontraksi setiap 5 menit sekali, namun ketika dari rumah, perjalanan, hingga sampai rumah sakit rasa tersebut mulai berkurang, tidak terlalu intens seperti sebelumnya. Setelah itu, saya bersama mama dan bapak mertua masih sempat ke bagian administrasi untuk mengurus rawat inap dan lain-lain. Kemudian, saya kembali ke IGD untuk diperiksa lebih lanjut oleh bidan rumah sakit, mulai dari tensi, pengambilan sampel darah untuk cek laboratorium, dan CTG. Pada saat dilakukan pengecekan di IGD oleh bidan pagi itu, pembukaan saya hanya bertambah sedikit yaitu menjadi pembukaan 3. Kemudian selang beberapa menit dokter kandungan saya datang dan mengecek pembukaan menjadi pembukaan 4. Setelah dari ruang IGD, saya diantarkan ke ruang rawat inap untuk menunggu pembukaan lengkap. Karena saya akan melahirkan ditengah-tengah pandemi, maka rumah sakit memiliki peraturan sendiri dan ketat untuk para pasien dan tamu. Pada saat itu, hanya dua orang yang boleh menunggu dan menjaga saya selama di kamar dan tidak boleh ada tamu yang berkunjung. Saya saat itu dijaga oleh mama dan mama mertua yang datang bergantian dengan bapak mertua serta ayah saya sembari menunggu suami datang. Hari itu suami saya dijadwalkan akan tiba di Banjarmasin pada sore hari.
Selanjutnya, setelah masuk ke kamar rawat inap, sekitar pukul 8 pagi, bidan melakukan pengecekan kembali dan pembukaan saya masih di pembukaan 4, hingga pukul 11 sampai dengan pukul 1 pembukaan masih di pembukaan 4. Pukul 3 sore pembukaan bertambah satu menjadi pembukaan 5 dan pada pukul 6 lewat dicek kembali pembukaan saya masih di pembukaan 6. Berdasarkan informasi dari bidan, seharusnya jika cepat dan normalnya pembukaan akan bertambah 1 cm setiap 1 jam sekali, namun pada saya pembukaan berlangsung lama. Sempat terpikir untuk minta diinduksi agar pembukaan bisa cepat namun hal tersebut tidak jadi dilakukan. Selama menunggu pembukaan bertambah dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore, saya terus berusaha melakukan squad perlahan dan berjalan mondar mandir di kamar, flek darah bersama lendir pun semakin bertambah. Begitu pula rasa sakit pembukaan juga semakin bertambah sampai saya merasa tidak bisa merespon setiap omongan yang mengajak saya bicara, saya hanya berpegangan pada tempat tidur dan minta dielus bagian punggung oleh mama sambil belajar mengatur nafas. Selanjutnya setelah pukul 6 dilakukan pengecekan oleh bidan, mama menyarankan saya untuk makan dulu agar nanti jika harus ke ruang bersalin saya memiliki cukup tenaga selama proses persalinan mengingat jika pembukaan saya normal, di pukul 8 harusnya saya sudah memasuki pembukaan 10.
Selama menunggu pembukaan dari sore hingga suami datang, saya ditunggu oleh orangtua saya. Pada pukul setengah 7 setelah magrib akhirnya suami saya datang ke rumah sakit. Sebenarnya suami saya sudah sampai di Banjarmasin pada pukul 3 sore, sebelumnya pun sejak pagi dia selalu memantau perkembangan saya melalui mertua maupun melalui ibu saya. Namun dia tidak langsung ke rumah sakit karena harus mandi dan bersih-bersih dulu sebelum menemui saya mengingat dia habis melakukan penerbangan dari Bali transit Surabaya lalu ke Banjarmasin. Setelah suami saya datang dan mandi lagi di rumah sakit, mama lalu bergantian dengan suami untuk mandi dan suami saya melanjutkan untuk menjaga dan mengelus bagian punggung hingga tulang belakang saya. Sempat ketika itu suami saya ingin makan, tiba-tiba datang dua orang bidan mengetuk pintu. Kami pikir mereka datang untuk melakukan pengecekan pembukaan lagi, ternyata saat itu juga saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Tidak jadi makan, suami saya pun ikut mendampingi saya ke ruangan bersalin sementara mama masih di kamar mandi. Benar ternyata seluruh afirmasi positif yang saya dan suami berikan kepada si bayi sejak dalam kandungan, serta omongan suami yang menginginkan si bayi keluar menunggu ayahnya datang dulu, dan itu akhirnya terjadi. Suami bisa mendampingi saya selama proses persalinan, alhamdulillah.
Perjalanan dari ruang rawat inap ke ruang bersalin sangat dekat, sesampainya disana, sakit yang saya rasakan semakin bertambah dan sering frekuensinya, saya hanya bisa mengingat Allah, membaca beberapa amalan sambil berusaha mengatur nafas. Sembari menunggu, suami saat itu sempat bercanda dengan meniru cara saya mengatur nafas, lucu tapi saya menjadi galak namun agak merengek dan mengatakan bahwa saat ini saya tidak bisa diajak bercanda. Saya minta dia mendoakan saya kuat dan senang dalam proses persalinan yang sudah semakin dekat. Kemudian bidan melakukan pengecekan kembali diruang bersalin sambil menyiapkan peralatan yang akan digunakan selama proses persalinan. Saat itu sudah masuk bukaan 8. Selang 15 menit kemudian saya tidak kuat karena ada rasa yang mendorong di bagian pantat saya seperti ada sesuatu yang besar ingin keluar. Suami pun memencet bel untuk memanggil bidan dan saat bidan datang melakukan pengecekan ternyata sudah bukaan 9 hampir lengkap 10 dan tinggal menunggu dokter yang sedang on the way.
Sampai di pembukaan lengkap, dokter masih belum datang namun bidan dan perawat disana menginstruksikan bahwa ketika sudah muncul rasa dorongan seperti ingin buang air besar serta kontraksi yang sangat kuat, maka saya dapat mengejan sesuai dengan teknik mengejan yang sudah diajarkan oleh mereka. Beberapa kali muncul rasa kontraksi yang kuat dan dorongan seperti ingin buang air besar, tapi air ketuban saya masih belum pecah dan kepala bayi pun belum terdorong kebawah. Saking gugup dan excitednya, sekujur tubuh saya saat itu spontan menjadi gemetar. Bidan pun meminta suami saya untuk memberikan minuman manis yang kemudian mereka pesankan. Suami saya dengan sabar disamping saya memberikan minum teh manis hangat untuk menambah tenaga saya ketika nanti mengejan. Masih menunggu, bidan dan perawat pun sempat bercanda dengan saya dan mengatakan bahwa si bayi maunya menunggu lahiran dengan dokter dan dandan dulu sebelum ketemu dokter nyahaha. Beberapa menit kemudian dokter datang dan saya masih bisa senyum-senyum dengan bidan dan suami karena rasa sakit pembukaan sudah tidak terasa dan kontraksi pun kadang datang kadang pergi. Karena tidak merasa sakit, saya diinfus dan sepertinya dimasukan cairan untuk membuat saya merasakan kontraksi hebat lagi. Setelah merasakan kontraksi hebat dan dorongan saya diminta mengejan, berkali-kali namun belum berhasil hingga setengah jam telah berlalu. Akhirnya dokter memecah ketuban saya dan air ketuban pun tumpah. Suami sempat bertanya kepada dokter, itu air ketuban dok? Iya kata dokter. Lalu saya diminta lagi mengejan ketika sakit kontraksi dirasa sangat sakit dengan teknik yang sudah diajarkan, namun cara saya mengejan tidak stabil, kadang benar kadang salah, mengejan seperti orang ingin buang air besar, kadang mengejan di tenggorokan. Setiap ambil nafas panjang dan mengejan seperti orang ingin buang air besar, lalu nafas saya mau habis dan ketika menarik nafas lagi, teknik mengejan saya menjadi salah lagi, di tenggorokan lagi. Begitu berkali-kali sampai dokter dan bidan pun agak kesal karena saya salah mengejan. Ketika benar, nafas saya tidak cukup. Suami yang berada disamping saya pun terus menyemangati bersama para bidan dan dokter ketika saya mengejan, namun tetap belum berhasil hingga akhirnya dokter menggunting jalan lahir saya dua kali dan itupun saya tidak merasa kesakitan. Setelah digunting dan kontraksi, saya tetap salah mengejan namun tetap disupport oleh mereka semua yang ada disana. Suami terus membisikkan kalimat semangat dan doa untuk saya. Sampai setengah jam dari ketuban saya dipecahkan oleh dokter, si bayi masih belum bisa saya dorong keluar, akhirnya dokter pun memberikan shock theraphy kepada saya, entah itu untuk memacu semangat saya atau memang karena sudah terlalu lama, hampir sejak dokter datang dan setengah jam sejak ketuban pecah, dokter mengatakan bahwa ini sudah terlalu lama, semuanya sekarang ada di saya, saya selalu salah mengejan dan diminta pelajari lagi cara mengejan yang benar bukan di tenggorokan, jika terus begitu maka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan si bayi, SC pun sudah tidak bisa karena kepala bayi sudah dibawah, rahim sudah dibawah. Mendengar perkataan dengan nada yang bagi saya menyeramkan tersebut, saya agak kecewa dan sedih, karena saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk berusaha mengejan dengan benar, tidak ada satupun niat saya melakukan kesalahan dalam mengejan ataupun membahayakan keadaan si bayi saat itu. Kemudian yang ada dipikiran saya adalah saya ingin menyelamatkan dan mengeluarkan si bayi yang sudah saya dan suami tunggu selama ini dengan selamat ke dunia, saya ingin melihat dia terlahir. Saya tidak ingin perjuangan yang saya lakukan selama ini bersama suami dan orang-orang yang mendukung saya sia-sia. Maka ketika rasa kontraksi yang kuat berikutnya muncul, saya berusaha sekuat tenaga mengejan sesuai dengan arahan dokter dan bidan, tidak perduli apapun, tidak pernah saya lupa dorongan, semangat dan doa dari suami yang berada disamping saya, serta para bidan dan dokter yang menyemangati kembali hingga akhirnya terasa seperti ada yang keluar dari jalan lahir saya. Ketika itu dokter langsung menarik kepala bayi saya dan mengeluarkannya, si bayi yang terlilit dengan satu lilitan itu akhirnya mengeluarkan tangisan pertamanya. Samar-samar saya lihat untuk pertama kali bayi itu dari pandangan mata saya yang tidak mengenakan kacamata wkkwkk. Terdengar ucapan syukur dari suami disamping saya sambil mencium kening saya saat itu dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Sungguh momen yang tidak pernah akan saya lupakan seumur hidup saya. Perasaan bahagia melebihi dari apapun saat itu. Alhamdulillah telah lahir anak pertama kami, seorang perempuan pada pukul 21.37 WITA tanggal 16 April 2020 di Banjarmasin.
Setelah itu bayi langsung diangkat oleh bidan dan dokter mengeluarkan plasenta. Kemudian bayi diserahkan kembali ke dada saya untuk proses inisiasi menyusui dini, bersama dengan suami disamping saya. Kemudian setelah proses itu selesai, bidan memberikan saya ucapan selamat dan meminta saya untuk mencium bayi saya dan selanjutnya membawanya untuk dibersihkan. Suami pun terlihat sibuk sambil memegang smartphonenya memberikan kabar bahagia kepada orangtua saya dan mertua serta adik-adik saya. Kemudian suami saya dipanggil untuk menemani si bayi dibersihkan sementara saya melakukan proses penjahitan oleh dokter dan seorang bidan. Suami kemudian melantukan qomat dan bertemu dengan dokter anak kami untuk dijelaskan beberapa informasi singkat atas kelahiran anak kami. Suami kemudian mondar mandir dari ruang bersalin dan ruangan bayi yang jaraknya dekat dan terlihat dari ruang bersalin. Terlihat rona bahagia dan bangga dari wajah suami saya dan itu cukup menenangkan saya. Penantian kami selama ini akhirnya terwujudkan. Tampak juga dari ruang bersalin ibu saya mendatangi si bayi di ruangan bayi dengan ekspresi bahagia luar biasa. Sambil dijahit, suami kembali ke ruangan saya dan memberikan saya kurma dan teh manis. Lalu dia kembali ke ruangan bayi untuk mengabadikan momen pertama bayi kami dan membagikannya dengan keluarga kami. Lalu suami bergantian dengan ayah mertua saya yang sebelumnya menunggu di parkiran bersama seluruh anggota keluarga.
Setelah proses penjahitan selesai dan dokter pulang. Seluruh badan saya dibersihkan oleh bidan dan kemudian diantarkan kembali ke kamar rawat inap bersama suami dan mama sedangkan si bayi masih di ruangan bayi untuk proses pemeriksaan sesuai prosedur dari rumah sakit untuk bayi baru lahir. Sesampainya dikamar, saya diminta untuk makan oleh bidan agar bisa mengonsumsi obat yang diberikan. Suami dan mama serta keluarga dirumah pun bisa tidur dengan bahagia menyambut kelahiran si bayi, putri pertama kami. Sekitar pukul 1 malam, kemudian suster dan bidan mengantarkan putri kami ke kamar untuk tidur dan diberikan ASI oleh saya.
Malam itu merupakan malam yang sangat membahagiakan bagi saya, suami serta seluruh keluarga kami. Tidak akan pernah saya lupakan setiap momen yang saya lewati saat itu dan orang-orang yang selalu mendoakan serta mendampingi saya kala menunggu proses persalinan hingga putri kami tersebut dilahirkan. Setiap momen saat itu akan terekam indah dalam memori yang melengkapi setiap fase kehidupan saya.
Teruntuk suamiku tersayang, terima kasih telah berusaha sebaik mungkin mendampingiku baik di kala jauh, diperjalanan, hingga proses persalinan berlangsung. Akan selalu teringat potretmu di kala menemaniku sore hingga malam membahagiakan itu. Akan selalu teringat kata dan lantunan doamu dikala mendampingiku sore hingga malam itu.
Teruntuk mamaku tersayang, terima kasih atas semua yang telah kau berikan kepadaku sejak aku dalam kandunganmu hingga saat aku menulis cerita ini dan selamanya. Ku tahu cinta dan kasih sayangmu kekal abadi untukku dan takkan bisa ku balas sampai kapanpun. Maafkan jika aku pernah menyakiti hati dan perasaanmu, mama.
Teruntuk mama mertuaku tersayang, terima kasih telah melahirkan seorang anak dan suami yang terbaik untukku, telah menganggapku sama seperti anakmu sendiri. Kini kutahu perjuangan kalian para ibu, sejak mengandung hingga membesarkan anak-anak kalian sampai menjadi seperti sekarang ini, amatlah berharga dan takkan terbalaskan.
Teruntuk seluruh keluarga yang mendoakan dan ikut menunggu hingga malam dari kejauhan atas kelahiran putri kami, terima kasih karena berkat doa kalian jugalah putri kami dapat terlahir dengan selamat dan sehat.
Teruntuk bidan, dokter, dan seluruh tenaga medis yang membantu saya di rumah sakit, terima kasih atas support, perawatan, dan seluruh jasa kalian dalam membantu proses persalinan saya yang sangat mengesankan bagi saya.

No comments:
Post a Comment