Pages

Thursday, November 11, 2021

Fase Kehidupan Baru Dimulai : Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

Sebulan yang lalu, alhamdulillah anak kedua kami telah lahir kedunia ini dengan selamat dan lengkap. Kelahiran anak kedua kami sedikit berbeda ceritanya dengan kelahiran anak pertama yang pada waktu itu mundur satu minggu dari HPL HPHT, kali ini anak kedua kami terlahir maju 10 hari dari HPL HPHT dan HPL dokter. Kesamaannya dengan anak pertama yaitu terlahir masih di masa pandemi Covid-19 (bayi era pandemi).

Sedikit prolog, jadi sekitar pertengahan September 2021 lalu, suami memutuskan untuk kembali ke Banjarmasin setelah mendapat izin WFH dan menyusul saya yang sedang cuti melahirkan. Rencananya suami akan kembali ke Jakarta diakhir bulan September 2021 dan kembali lagi pada awal Oktober 2021 jelang HPL saya. Lalu karena kebetulan ada kegiatan kantor yang harus saya ikuti pada minggu awal cuti melahirkan, weekday akhirnya saya isi dengan kegiatan tersebut dan rencana yang sebelumnya sudah saya buat untuk persiapan kelahiran baru bisa saya lakukan di hari weekend. Lalu di weekend tersebut saya dan suami mengajak si kakak jalan dan membeli beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk si dede. Di hari sabtu saya, suami dan si kakak pergi jalan seperti biasa ke mall, ke tempat makan dan ke toko perlengkapan bayi hingga malam. Keesokan harinya yaitu hari minggu, saya, suami, si kaka dan mama pergi untuk makan siang bersama dan rencananya akan membeli beberapa perlengkapan bayi lagi serta kado untuk teman kami yang baru saja mengadakan acara aqiqah anaknya. Keadaan sewaktu makan siang masih seperti biasa dan berlanjut saat berada di toko perlengkapan bayi ternyata perut saya mengalami kram sampai rasanya tidak kuat berjalan. Rencana untuk berkeliling melihat perlengkapan bayi pun dibatalkan dan kami hanya membeli kado untuk teman saja lalu mengantarkannya ke rumah teman tersebut. Setelah mengantar kado tersebut, kami langsung pulang dan kram yang saya rasakan saat di toko perlengkapan bayi tersebut berangsur-angsur hilang. Lalu muncul kram yang tidak menentu sepanjang malamnya namun saya masih berpikir itu hanya kontraksi palsu. Kebetulan di kehamilan pertama karena tidak pernah merasakan kontraksi palsu, saya menjadi santai saja saat di kehamilan kedua ini mengalami kram dan masih berpikir bahwa hari lahir anak kedua kami masih sesuai HPL.

Keesokan harinya, yaitu hari senin pagi saya kembali jalan untuk menemani suami ke Rumah Sakit memeriksakan kesehatannya. Kebetulan suami juga berencana untuk kembali ke Jakarta pada hari selasanya. Iseng menanyakan jadwal dokter Obgyn saya pada hari itu, ternyata ada jadwal mendadak dan kuota sebanyak 5 pasien, saya langsung membuat perjanjian untuk kontrol mingguan pada malam harinya (semula jadwal kontrol mingguan saya seharusnya ada di hari Jumat sebelumnya, namun direschedule menjadi Jumat depannya waktu itu). Daripada menunggu jumat depan dan berhubung dokternya ada, saya juga memiliki beberapa keluhan yang ingin disampaikan ke dokter, akhirnya pada malam harinya saya, suami dan si kakak memeriksakan kehamilan saya yang sudah memasuki minggu ke 38 itu. Saat diperiksa oleh dokter, letak kepala janin sudah dibawah namun belum turun sekali, tanda-tanda kelahiran lain pun belum muncul selain kontraksi palsu yang saya alami pada hari minggu itu. Selebihnya kondisi jlso dede saat itu baik-baik saja dan kondisi saya pun baik, tinggal menunggu tanda-tanda kelahiran lain saja. Atas hasil pemeriksaan tersebut, kami pun lega namun pada saat keluar dari ruang dokter, saya kebelet pipis dan ternyata ada lumayan banyak flek yang keluar (padahal pada saat diruangan dokter dan ditanya apakah sudah ada flek, saya menjawab belum ada karena memang belum ada sebelum itu). Saya pun memberitahukan hal itu kepada suami, dan suami berinisiatif untuk menanyakan ke dokter lagi saja atau sekedar memberi tahu bahwa sudah ada flek. Namun saya menolak dan memilih menginformasikan hal tersebut melalui whatsapp saja kepada dokter obgyn karena malam itu sepulang dari rumah sakit kami bermaksud untuk mengajak si kakak makan malam bertiga dan lagi-lagi ke toko perlengkapan bayi. Selama di perjalanan malam itu, kami berpikir apakah keberangkatan suami besok ke Jakarta tetap dilanjutkan atau dibatalkan saja mengingat sudah ada tanda-tanda kelahiran dari si dede. Sesampainya dirumah, kami memberitahukan hal tersebut kepada orang tua dan akhirnya suami memutuskan untuk tidak jadi kembali ke Jakarta dan memberitahukan kondisi saya serta meminta izin kepada atasannya untuk menunggu beberapa hari lagi sampai hari kelahiran itu tiba. Sepanjang malam itu, kontraksi palsj terus terasa, namun saya dan suami masih santai dan hanya bisa menebak-nebak, mungkin dalam sehari atau dua hari kedepan barulah anak kedua kami ini lahir.

Lalu keesokan harinya, saya masih beraktivitas seperti biasa dengan suami yang siaga dan keluarga yang juga bersiap-siap. Flek ternyata masih keluar dan kram juga semakin teratur namun jaraknya masih belum berdekatan. Saya pun membereskan kamar dirumah dan menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit apabila nanti sewaktu-waktu kontraksi yang saya rasakan semakin teratur dan cepat. Saat itu suami masih bekerja dirumah dan kegiatan kami masih seperti biasa. Siang harinya kontraksi palsu yang saya rasakan semakin menjadi-jadi dan sehabis ashar, saya sudah bersiap-siap ke rumah sakit. Sekitar pukul setengah 5 sore karena rasa sakit semakin sering saya rasakan, saya dan suami bergegas untuk bersiap-siap ke rumah sakit. Kakak untuk sementara ditinggal di rumah bersama orang tua saya. Diperjalanan menuju rumah sakit, rasa sakit yang saya rasakan tiba-tiba menghilang dan saya sempat berkata kepada suami agar tidak langsung ke rumah sakit, tapi berkeliling dulu di jalan. Ketika kami membelokkan arah dan ingin berkeliling, tiba-tiba rasa sakit itu muncul lagi dan akhirnya kami kembali ke tujuan awal yaitu langsung ke rumah sakit saja. Sesampainya di rumah sakit, kami langsung ke IGD. Saya diperiksa dan suami mengurus administrasi. Setelah dicek CTG, ambil darah dan swab antigen, saya masih harus menunggu di IGD untuk dicek pembukaan. Saat dicek pembukaan, ternyata baru pembukaan 2.5 dan saya sudah dapat rawat inap. Saya dan suami menunggu diruang IGD cukup lama karena kamar rawat inap sedang disiapkan dan pihak IGD sedang menghubungi dokter Obgyn dan dokter anak. Lalu akhirnya kami kelaparan dan membeli makanan di kantin rumah sakit. Waktu menunggubitu juga sayabisi dengan menonton video oernapasan dan berlatih pernapasan di ruang IGD. Pada pukul 21.00 WITA akhirnya kami baru dapat masuk keruangan kamar rawat inap. Sesampainya di kamar, saya langsung dicek pembukaan kembali oleh bidan dan ternyata sudah pembukaan 5-6, karena sudah pembukaan 5-6 saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Saat dibawa keruangan bersalin saya masih merasa kelaparan dan masih menunggu makan malam yang sedang dibawakan oleh papa. Sesampainya di ruang bersalin dicek pembukaan lagi sudah pembukaan 8 dan papa datang untuk membawakan makanan. Saya makan disuapi oleh suami untuk menyiapkan tenaga saat proses persalinan nanti, namun karena rasa sakit pembukaan dan lapar, makan pun menjadi tidak karuan rasanya. Sampai dokter Obgyn datang, saya masih sempat dipersilakan untuk makan dulu dan saat dicek pembukaan sudah lengkap, dengan santainya Dokter dan bidan mengintruksikan cara persalinan ketika ada kontraksi dan rasa dorongan bayi ingin keluar. Saat muncul kontraksi dan dorongan bayi ingin keluar saya berusaha mengejan namun masih belum berhasil, dokter dan bidan pun masih santai dan mengobrol ketawa-ketiwi untuk menhilangkan suasana takut dan nervous persalinan. Suamipun juga masih sempat ikut dalam obrolan tersebut. Lalu ketika muncul kontraksi dan dorongan lagi saya masih berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan si dede dibantu doa dan dukungan oleh suami disamping saya dan keluarga dirumah. Tidak lama, setelah proses kontraksi dorongan kesekian kali dan mengejan kesekian kali akhirnya dokter berhasil mengambil dan mengeluarkan si dede. Tak lama terdengar suara tangisan bayi kecil itu dan saya bisa menyaksikannya lebih jelas dibanding saat melahirkan anak pertama dulu. Ternyata masih sama dengan si kakak, terdapat satu lilitan tali pusat pada si dede dan itu yang menyebabkan proses keluarnya agak lama. Alhamdulillah, tepat pada pukul 22.12 telah lahir anak kedua kami yang sudah melalui banyak cerita seru selama proses kehamilan sampai ke proses kelahirannya, seorang bayi laki-laki yang menjadi pelengkap kehidupan kami sejak detik itu.

Lalu setelah si dede keluar, dokter lanjut untuk menjahit sobekan selama proses persalinan saya  Kali ini, kaki saya tidak bergemetar seperti saat persalinan anak pertama, alhamdulillah. Setelah si dede  dibersihkan oleh bidan dan dicek oleh dokter spesialis anak, maka kami memulai IMD, proses IMD kali ini juga berbeda dengan persalinan pertama, prosesnya terasa lebih lama dan saya cukup puas dengan hal tersebut. Tak lama, si dede kembali dimasukkan kedalam ruangan bayi dan saya menunggu infusan obat habis, karena sewaktu setelah persalinan saya sempat merasa agak mual dan ingin muntah (mungkin karena asam lambung yang saya miliki selama ini) lalu dokter memasukkan obat lambung dalam infusan tersebut. Setelah sampai waktunya, saya dibawa kembali keluar dari ruang bersalin ke ruangan kamar. Si dede masih diobservasi dalam ruangan bayi. Saya dan suami lalu mencoba beristirahat (meskipun ternyata saya tidak bisa tidur sampai subuh karena memikirkan nama bayi yang belum sempat kami tentukan plus karena kebanyakan minum teh sepertinya wkkwkk).

Alhamdulillah malam itu merupakan malam terbahagia kesekian kalinya bagi saya, suami dan keluarga besar kami. Anak kedua yang kami tunggu-tunggu kelahirannya akhirnya dapat terlahir dengan selamat, lengkap, dan ternyata lebih cepat dari perkiraan. Banyak momen-momen di hari itu yang tidak dapat saya tuliskan dan pastinya merupakan momen yang tidak dapat saya lupakan sepanjang hidup saya. Kehadiran suami yang siap siaga dan menenangkan. Keberadaan keluarga serta doa dari semuanya merupakan anugerah terindah. Terima kasih banyak ya Allah atas semua yang telah saya lalui hingga saat ini.

Tidak sama dengan persalinan pertama, pada persalinan kedua ini, saya merasa lebih takut dan nervous dibanding persalinan pertama karena saat persalinan pertama proses yang diperlukan sejak pembukaan lengkap dan si kakak terlahir tergolong cukup lama. Namun ternyata di persalinan kedua ini, menurut saya dan suami prosesnya bisa lebih cepat dan lebih santai dari yang kami bayangkan sebelumnya.

Selanjutnya terima kasih saya sampaikan kepada suami yang raut wajah, ekspresi dan sikapnya di hari itu tidak permah saya akan lupakan, terima kasih atas doa serta selalu mendampingi saya dimasa-masa kehamilan hingga proses menuju persalinan. Terima kasih kepada si dede yang telah bekerja sama dengan baik sejak awal hingga persalinan. Terima kasih kepada si kakak yang banyak mengajarkan kami hal-hal baru dalam kehidupan menjadi orang tua dan sudah sabar dan pintar selama ketidakhadiran kami sekitar 2 hari saat di rumah sakit. Terima kaaih kepada kedua orangtua saya yang telah melahirkkan dan membesarkan saya hingaa saat ini. Terima kasih kepada mertua saya yang telah melahirkan anak-anak serta suami terbaik saya. Terima kasih kepada perawat, bidan, dan dokter yang telah merawat saya selama kehamilan dan membantu proses persalinan saya. Terima kasih kepada seluruh keluarga dan sahabat yang memberikan doa dan semangat kepada kami.

Semoga kita semua selalu merasa cukup dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita dapat menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik di tiap fase kehidupan kita. Aamiin.