Pages

Sunday, October 13, 2019

1 Tahun Menjalani Long Distance Marriage

Agustus tahun ini, alhamdulillah tepat 1 tahun saya dan suami menjalani long distance marriage (LDM). Sejak awal pernikahan saya dan suami memang harus menjalani LDM karena pekerjaan. Saya bekerja di kota A dan suami bekerja di kota B, sama-sama tinggal sendiri jauh dari orang tua, antar pulau pula. Proses ini sudah kami sepakati saat mulai serius membicarakan tentang pernikahan, dengan harapan proses LDM yang dijalani tidak sampai berlama-lama. Salah satu di antara kami sebisa mungkin diharapkan bisa mengurus mutasi ke salah satu kota dan bisa tinggal bersama layaknya suami istri pada umumnya. Namun sekarang setahun sudah berlalu dan kami masih harus menjalani LDM.
Gambar diambil dari Pinterest
Buat saya, di bulan-bulan awal pernikahan, LDM rasanya biasa saja, komunikasi dan lainnya masih berjalan dengan baik, menjalani aktivitas sehari-hari pun biasa saja, tidak ada yang berubah. Namun di bulan-bulan berikutnya hingga 1 tahun lebih menjalani LDM, rasanya menjadi berbeda. Ada yang kurang dalam kehidupan kami. Komunikasi tetap baik, tapi ada hal-hal dimana keluarga baru lain bisa dapatkan ketika tinggal bersama dan kami belum bisa dapatkan. Kewajiban satu sama lain yang harusnya bisa dijalankan, belum bisa sepenuhnya kami lakukan kepada pasangan. Saya sendiri sebagai seorang istri, merasa banyak ketinggalan belajar dan praktek untuk menjadi istri yang baik buat suami saya karena keterbatasan jarak dan waktu. Banyak hal-hal kecil yang bisa dilakukan bersama namun harus kami lewatkan karena terhalang jarak dan waktu. Terkadang suka sedih membayangkan suami harus mandiri disana tanpa ada kehadiran saya mengurusnya sebagai istri. Padahal salah satu makna dari sebuah pernikahan itu sendiri adalah kebersamaan. Kami yang baru menikah ini, berharap bisa sama-sama belajar membangun rumah tangga sederhana, belajar menjadi suami-istri yang terbaik, belajar menyatukan dua kepala dalam satu ikatan.
Gambar diambil dari Pinterest
Menjalani LDM sampai saat ini tentu ada plus dan minusnya. Mungkin jika pesimis memaknainya, akan banyak minusnya. Saya mau sharing mulai dari minusnya dulu. Hal yang paling dasar yang bisa saya rasakan adalah tidak bisa tinggal satu rumah, tidak bisa menjalankan kewajiban full sebagai suami istri, segala aktivitas rumahan yang bisa dilakukan gotong-royong bersama harus dilakukan sendiri, misalnya belanja bulanan sendiri untuk keperluan sendiri yang harusnya untuk keperluan berdua, berangkat ke kantor sendiri, kalau sakit harus sendiri, komunikasi lewat telp dan vcall, keuangan pun menjadi double pengeluaran untuk suami-istri. Kami harus menyediakan dana tambahan untuk bertemu setiap 2 minggu sekali (yang kemudian lama-lama berubah jadi sebulan sekali), ongkos pesawat, ongkos main, biaya sewa 2 kost, biaya makan sendiri-sendiri dan biaya lainnya. Semua menjadi double. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kami kesulitan untuk menabung. Di tahun awal pernikahan, gaji yang kami terima lebih banyak kami habiskan agar kami bisa bertemu melepas rindu. Itu sedikit dari minusnya LDM yang saya rasakan selama setahun ini ya. Untuk plusnya sebisa mungkin kami menjadi lebih belajar menghargai waktu ketika bersama karena waktu bersama itu sangat terbatas bagi kami, saya dan suami jadi lebih memaksimalkan quality time kami berdua, menyelesaikan konflik lebih cepat jika ada selisih paham tanpa dipendam dan mengulur-ulut waktu. Belajar komunikasi yang baik dan efektif. Jadi punya me time ketika saya misalnya ingin sendiri pergi ke salon atau suami ingin main game kesukaannya. Kami dipaksa untuk lebih dewasa dalam menyikapi hal-hal dalam kehidupan. Saya rasa itu lah sedikit sharing plus minus LDM yang saya rasakan selama setahun lebih ini bersama suami.
Gambar diambil dari Pinterest
Setahun mungkin adalah waktu yang singkat dalam sebuah pernikahan, tapi bagi saya, setahun menjalani pernikahan LDM telah banyak memberikan warna dalam kehidupan. Ada rasa sedih, ada rasa senang, meskipun ke tahap bahagia memiliki keluarga kecil itu belum sepenuhnya saya rasakan :') Bayangan keluarga kecil bahagia yang saya cita-citakan tentulah jauh dari yang sekarang kami jalani. Tapi saya selalu berdoa dan berusaha agar cita-cita itu segera terealisasikan.

Untuk kalian disana yang sedang menjalani LDM, saya doakan semoga bisa terus semangat menjalaninya sampai kalian bisa berkumpul lagi dan berhenti menjalani LDM. Doakan saya juga bisa lepas dari LDM ini secepatnya di waktu yang tepat aamiin.

No comments:

Post a Comment